Senin, 24 Agustus 2015

4 nilai, 2 pilar, banyak budaya, FKUB

-Religius, moralis, intelek, professional, kolegalitas, kepemimpinan-

Selamat pagi,
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Tak terasa sebentar lagi musim ospek.
Saya seorang mahasiswa tingkat tiga di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Sejak awal ospek, disini kami menyebutnya Probinmaba, saya makin jatuh hati dan merasa sangat beruntung Allah menakdirkan saya menuntut ilmu disini. Why? Kenapa? Kok bisa begitu? Bukankah ospek adalah hal yang menyebalkan? Ya memang, kebanyakan ospek di luaran sana sangat extreme dan dibumbuhi dengan perpeloncoan. Tapi disini sangat jauh berbeda, senioritas tetap ada namun dalam kemasan yang indah. Evaluasi, bentak membentak, dan hukuman diberikan dengan cara yang anggun. Kalau tidak percaya, kalian coba saja ospek di FKUB hehe.
Baiklah, langsung saja saya ceritakan. Salah satu hal yang paling saya sukai dari kehidupan di FKUB adalah budayanya. Sejak awal masuk kami dikenalkan dengan budaya SPMK (Standar Pakaian Mahasiswa Kesehatan). Awalnya memang terlihat seperti ribet "ih ribet, pake baju saja ga boleh gini gitu", tapi jika kamu coba mendalami esensinya, pasti kamu tak menemukan kerugian dibalik memakai SPMK, justru membuat kalian terlihat indah. Selain cara berpakaian yang diatur, kami juga ditanamkan dengan nilai-nilai kolegium (ini harus hafal di luar kepala). Ada 4 nilai kolegium yang tersusun secara hierarki namun semuanya harus dimiliki dalam taraf yang sama. Religius, moralis, intelek, profesional. Nilai religius menjadi hal yang paling utama, tapi tetap tak mengesampingkan nilai-nilai lainnya. Semuanya sama penting dan sebisa mungkin dimiliki setiap orang, saya rasa bukan hanya mahasiswa FKUB. Susah memang, tapi paling tidak kita berusaha. Dalam probinmaba kami juga dikenalkan dengan pilar pembinaan yaitu kolegalitas dan kepemimpinan. Ke enam sifat ini tak bisa begitu saja dimiliki seseorang, melainkan memang harus dibiasakan dan dibentuk. Dalam prosesnya mungkin berat, tapi jika sudah bisa menjalaninya, pasti akan baik. Tak hanya itu, kami juga dikenalkan dengan budaya 5S no S. 5 S, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun. Lalu no S ? NO SMOKING yah kita kan calon tenaga kesehatan yang kampanye anti rokok, mana boleh kita sendiri merokok. Sejak pulang ospek, saya jadi manggut-manggut kalo ketemu orang di jalan, kebiasaan di FKUB hehehehe.
Semua hal positif ditanamkan dalam rangkaian probinmaba yang berlangsung kurang lebih selama 1 tahun. Saya ingin berpesan pada adik-adik Maba, jangan pernah mengeluh. Kalian harusnya bersyukur karena kakak-kakak kalian telah berjuang mati-matian mempersiapkan ospek kalian. Pikiran, tenaga, perasaan, kantong dan semuanya diperas. Mereka memperjuangkan kebaikan kalian, mereka bela-belain ngabisin waktu libur mereka di kampus, demi kalian, jangan sia-siakan. Tugas-tugas yang diberikan pada kalian semuanya memiliki esensi. Saya hanya mahasiswa biasa, bukan bagian dari panitia ospek, tapi saya sangat miris jika ada orang tua / wali mahasiswa yang memprotes ospek di tempat kami. Saya bingung, apakah mereka tidak ingin anaknya tumbuh menjadi insan yang baik? Apakah mereka benar-benar terlalu sayang pada anak mereka hingga menginginkan segala kemudahan bagi anak mereka yang justru nantinya dapat menjerumuskan anak mereka kenjurang kemanjaan dan kelemahan? Kadang mereka berdalih tugas-tugas ospek mengganggu waktu belajar. Ayolah, mereka sedang dididik mengatur waktu, mereka sedang dibiasakan dengan kehidupan tenaga kesehatan yang nantinya akan jauh lebih keras dan menghabiskan banyak waktu. Toh disini mereka juga diperlakukan sangat manusiawi. Ayolah, orang hebat ga dibentuk dengan santai-santai, leyeh-leyeh, ketawa-ketiwi.
Sekian, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.
Terima kasih juga untuk kakak-kakak tingkatku yang baik hatinya ♡
Wassalam

Regards,
Bahira

*Sumber gambar : OFFICIAL LINE BEM FKUB

Sabtu, 08 Agustus 2015

Ini bukan hijrah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ukhtifillah,
Hmm baru pertama kali ini aku mencoba menggunakan kata itu.
Kurasa aku kurang pantas menyebutnya dengan lisanku. Hehe

Baiklah, hai sis :D

Aku ingin sedikit-banyak berbagi kisah, tentang hidayah dan taufiq.
Aku tak ingin menyebutnya sebagai "hijrah", karena kata-kata itu terlalu luar biasa dalam persepsiku.

Hidayah-
Ramadhan kali ini jauh berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, terutama beberapa tahun terakhir ini.
Tahun lalu, aku menghabiskan hampir 1 bulan ramadhan di kos, karena aku harus menempuh ujian dan semester pendek.
Tahun ini, hanya sekitar 3 hari di awal ramadhan yang aku lalui di kos.
Berkat rahmat Allah, aku mendapat nilai yang bagiku sendiri tak pantas ku dapat. Tapi memang rencana Allah lebih indah.
Dengan nilai itu, aku tak perlu menjalani semester pendek di tengah ramadhan. Aku bisa menghabiskan waktuku di rumah, membantu ibuku. Bedanya, tahun ini pertama kalinya aku melalui ramadhan tanpa ayah, ibu pun masih dalam masa iddah, sehingga belum bisa keluar untuk menjaga toko. Jadilah anak-anaknya berjuang bersama, mengompakkan diri membantu ibu.

Ramadhan kali ini aktivitasku cukup padat, aku tak bisa mengisi waktu-waktuku dengan ibadah sunnah, karena aku cukup lelah.
"Betapa sedihnya, ramadhan hanya datang 1 kali dalam setahun, belum tentu juga aku bertemu lagi tahun depan, tapi kenapa amalanku semakin menurun?"
Aku berpikir sendiri dan menemukan jawabannya.
"It's ok. You are doing right things kok, Ra. Kamu mendahulukan kewajiban membantu ibumu."
Pembelaan diri yang kulakukan hehe.
Selain membantu ibu, aku mengisi waktu pagiku untuk belajar agama di rumah kerabat yang sekaligus menjadi guruku.

"Aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan"
Ku rasa hampir semua perempuan muslim tahu akan hal ini. Tapi aku pun terkadang selalu punya pembelaan terhadap diriku untuk tak menutupnya dengan sempurna.

"Oleh karena itu, lengan sampai pergelangan tangan perempuan juga termasuk aurat, sebaiknya para perempuan memakai manset agar jika bergerak, lengan bajunya tidak tersingkap, dan aurat tetap dapat terjaga"
Ini pun, aku sudah beberapa kali mendengar. Tapi sepertinya hanya lewat telinga saja.
Hidayah ini tidak merasuk ke hati.

"Kaki perempuan juga aurat, maka dari itu hendaknya perempuan menutupnya, dengan kaos kaki misalnya"
Kalau yang ini, biasaya aku hanya memakai kaos kaki saat kuliah.

Ramadhanku terus saja berjalan dengan aktivitas-aktivitas yang telah ku uraikan. Aku, memang memakai kaos kaki ketika hendak berangkat ke toko atau kemanapun jika memakai motor. Why? Karena Gresik (tempat tinggalku) panas.
Itu memang alasan yang tak bernilai sama sekali. Tapi dulu aku melakukannya.

Hingga suatu ketika, tiba-tiba hidayah menelisik ke dalam hatiku.
Aku teringat akan sebuah tulisan yang pernah aku baca.
"Selangkah saja perempuan keluar rumah dengan membuka aurat, maka selangkah pula ayahnya terseret ke dalam neraka"
Ngeri bukan? Tapi dulu aku tak menggubrisnya.
Tapi entah kenapa semenjak ayah meninggal aku selalu menjadi perempuan yang mellow dan mudah galau, but I'm trying to be stronger.

Suatu ketika, selesai aku dan kakakku mengkaji agama, aku mencium tangan Budeku, yang merupakan ibu dari guruku sekaligus kakak dari Ibuku.
"Enak yo ayahmu, anak-e nurut-nurut kabeh ngene, wes tenang"
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maksud Bude adalah sekarang ayahku tenang di sana, karena anak-anaknya mau belajar ilmu agama dan penurut.
Entah kenapa kalimat itu begitu menusuk, tapi tak sakit.
Aku membayangkan bagaimana jika ayahku disiksa karena kesalahanku?

Aku pun teringat materi ceramah yang kusampaikan saat SMA (aku bukan penceramah, hanya sebatas tugas dari guru PAI).
Seorang wanita akan dipertaggungjawabkan oleh 4 laki-laki, ayahnya, suaminya, anaknya, saudara laki-lakinya.

Sepertinya Allah menancapkan hidaya ke qalbku.
Tapi apalah diri ini jika tak mendapat sokongan taufiqNya.

Taufiq-
Aku mulai membulatkan tekad. "Aku harus menutup kaki"
Karena hampir setiap hari aku pergi ke Pusat Grosir Surabaya untuk membeli keperluan toko, aku yang kebetulan mampir di toko kaos kaki pun tanpa pikir panjang meminta kakak perempuanku untuk membelikan setengah lusin kaos kaki warna coklat yang sedikit tebal. Harganya jelas lebih murah, karena aku membelinya grosir hehehe

Pagi-siang-malam, aku coba mengistiqomahkan diri untuk selalu memakai kaos kaki.
Beberapa kali ibuku bertanya tentang sikapku, aku belum berani berkata kebenarannya, aku hanya menjawab "biar ga gosong, bu. Pakai kaos kaki"
Tapi suatu ketika, ibuku melihatku memakainya di malam hari. Ibu pun langsung saja bertanya.
Entah, sepertinya Allah mengirimkan sebuah kekuatan padaku.
"Iya, Bu. Aurat" hanya dengan jawaban singkatku, ibuku diam dan sedikit tersenyum.

Perjalanan ini tak secepat itu. Aku belum berani memakai manset tangan, selanjutnya kita sebut saja handsock ya biar keren. Hihi

Aku hanya menimang-nimang handsock yang ada di toko. Perlu di ketahui, tokoku menjual keperluan sehari-hari, kaos kaki dan handsock pun ada, jadi jika aku perlu, tinggal ambil dan lapor ibu. Tapi kemudahan itu pun tak membuat aku sesegera mungkin memakainya. I don't know why. Mungkin seperti itulah hidayah tanpa taufiq.

Beberapa hari ini kakak laki-lakiku menjadi begitu cerewet dan bawel.
"Eh itu aurat" katanya ketika aku mengambilkan barang untuk pembeli sehingga lengan bawahku tersingkap.
Aku tak menggubrisnya, tapi memang nasihat itu perlu. Aku merasa mendapat dukungan terutama dari kakakku itu untuk menutup aurat sepenuhnya.

Aku memutar otakku lagi, mengaduk nuraniku. "Ini tinggal pakai, kamu ga perlu keluar uang lagi buat beli-beli di luar sana"
Butuh cukup waktu bagiku untuk menguatkan tekadku. Beberapa hari, 1 buah handsock mulai ku ambil dan ku pakai.

Aku mengutarakan niatanku itu di depan ibuku dan kakak perempuanku.
"Ga pake cadar sekalian?"
Aku diam dan menggelengkan kepala sambil tersenyum cengengesan ala anak bungsu.

Sudah hampir satu bulan aku sedikit berubah. Aku semakin percaya diri. Aku tidak tahu nanti bagaimana reaksi teman-temanku di kampus melihat sedikit perubahan ini. Tapi aku sangat berharap, apapun reaksinya, aku tetap akan istiqamah.

Untuk kawan yang juga sedang dilanda kebimbangan. Trust me. Jangan pernah ragu untuk berubah menjadi lebih baik :)
Aku mendapat ketenangan yang jaaaaauh lebih banyak dari sebelumnya.
Aku memang jauh dari sempurna. Tapi dengan perlahan melakukan perubahan menuju lebih baik, perubahan-perubahan lainnya akan mengikuti.

Menutup aurat tak perlu menunggu hatimu bersih sejernih air, tak perlu menunggu lisanmu selembut kapas, dan tak perlu menunggu tingkahmu seperti Puteri dan Ratu dalam Istana.
Yakin dan jadikanlah menutup aurat menjadi awal mula datangnya kebaikan dalam dirimu. Menambah rasa malumu. Semakin menjagamu.

Aku pun bukan perempuan yang sangat terjaga, diri ini masih penuh alpa. Tapi, tak ada yang salah dengan niatan dan usaha untuk menjadi lebih baik. Perlahan namun pasti menuju tujuan.
Tak usah berlari terlalu cepat. Karena aku takut, kita justru telalu cepat menjadi lelah, dan akhirnya berhenti.

Jika orang menghujat, yakinlah Allah akan menguatkan kita. :)

Dan bagi yang masih suka mengomentari orang. Tolong hargai. Hargai teman-temanmu yang ingin menjadi lebih baik. Bukankah menutup aurat itu menjalankan kewajiban agama? Ya. Kalian semua tahu itu. Lalu kenapa justru yang menutup aurat kalian pandang sebelah mata?

Sesungguhnya setiap apa yang seseorang kerjakan akan menjadi tanggung jawabnya sendiri. Dan apa yang kamu kerjakan akan menjadi tanggung jawabmu sendiri.

Wallahua'lam bisshowab.

Wassalamu'alaikum :)

Kamis, 30 Juli 2015

Kursi Ayah

"Raa, Ira, Ra..."
Aku langsung berlari menghampiri ayah.
Akhir-akhir ini ayah sering sekali menghabiskan waktunya di teras. Menduduki sebuah kursi kayu yang ayah beli dari toko meubel di daerah Pasuruan. Kursi itu baru-baru ini saja berada di luar. Sejak ayahku sering menghabiskan waktunya di teras rumah. 2 buah kursi kayu berwarna coklat. Satu untuk meletakkan badan ayah, dan satu untuk menyelonjorkan kaki ayah.

Ayah duduk di teras tepat di depan kamarku. Kami hanya dipisahkan oleh kaca kamar yang sekaligus menjadi dinding bagian depan kamarku. Cukup mudah bagi ayah jika sedang butuh sesuatu, ayah bisa memanggilku, atau dengan mengetuk kaca kamarku.

Tanpa aku berkata, ayah sudah bisa membaca maksud kedatanganku, ayah langsung mengutarakan keinginannya. "Tolong oleskan bedak di kaki ayah"

Berlari kecil, mengambil bedak bayi yang memang biasa digunakan untuk kaki ayah.
Kaki ayah terluka, seperti pecah, terbuka, terlihat daging merah muda yang bersih. Pedih, aku yakin itu sangat pedih.
Berjalan pun ayah sempoyongan, kakinya sakit.
Ibu telah membelikan ayah sepatu sandal, dari depan nampak seperti sepatu, tapi bagian belakangnya bukan sepatu. Sepatu ayah sudah beberapa lama tak digunakan karena ayah terlalu kesakitan jika dipaksa menggunakan sepatu, mungkin sesak, namun ayah tetap harus bekerja dengan rapih.

Ku oles bedak itu pelan-pelan, membalut seluruh luka di sela-sela jari kaki ayahku, kulihat ayah mengernyitkan muka, sedikit kesakitan. Tanpa banyak bicara aku melakukannya. Hanya miris melihatnya. Ayahku, kasian sekali.
"Sudah rata, yah".
"Iya, terima kasih, terima kasih banyak"
Kata-kata itu, selalu membuatku tak enak hati. Setiap kali aku melakukan sesuatu untuk membantu ayahku, ayah selalu berterima kasih padaku, bahkan untuk hal-hal yang terlalu sederhana, yang bagiku tak mengeluarkan tenaga, dan sangat tak perlu untuk diapresiasi.

Berbeda sekali denganku. Seorang anak dengan ego dan gengsi yang cukup tinggi. Terkadang aku meminta sesuatu pada orang tuaku atau kadang ayah dan ibuku memberiku sesuatu dengan cuma-cuma, tapi aku tak mengucap terima kasih kepada orang tuaku dengan lisan. Aku malu, padahal seucap terima kasih tidak akan menurunkan derajatku sama sekali. Justru sebenarnya derajatku memang sudah sangat jauh di bawah kedua orang tuaku.

Tapi anak kecil ini selalu belajar. Membunuh setiap gengsi dan berlatih mengucap terima kasih kepada orang tuanya.
"Seberapa banyak pun kamu berterima kasih, kamu tak akan bisa membalas jasa-jasanya. Catat, ingat!"

●●●

Hampir 3 bulan berlalu dari kepergian ayah. Ayah telah berlayar di alam baka.
Aku kini tak lagi mendengar panggilan dari depan kamarku.
Sesekali aku membuka gorden, mengintip ke luar, hanya ada kursi usang yang dulu menemani ayahku menghabiskan waktu di saat-saat terakhir hidupnya.
"Malang sekali kamu, kursi. Tak ada lagi yang mendudukimu kini."
Lalu ku tutup kembali kain penutup kaca itu.

Segala benda peninggalan ayahku kini menjadi perantara kami untuk mengenang ayah.

Aku dulu tak tau arti kenangan, tapi kini, aku benar-benar mengerti dan paham. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tapi kau akan tahu ketika kau  kehilangan sesuatu yang sangat engkau cinta.

●●●

"Ra, kamu ga pengen beli cat? Vernis."
"Vernis tuh buat apa, bu?"
"Buat kayu, buat ngecat kursi ayah yang di depan itu. Udah jelek banget kan. Biar bagus lagi"

Saat itu, aku yang baru saja mengantar ibu dari Puskesmas untuk check up dan mengambil obat di apotek langsung saja mengarahkan mobil ke toko bahan bangunan milik Paman (Adik Ibuku).

"Mbak, beli"
"Eh, Ira. Beli apa?" Pegawai Paman yang sudah kukenal menyapaku, tapi sayangnya aku lupa nama Mbak ini. Payah memang aku ini.

Kujelaskan maksudku, ku pilih warna sesuai keinginanku, dan aku bertanya cara mengaplikasikannya. Hanya bermodal 35 ribu, aku dapatkan 1 wadah vernis dan 1 buah kuas untuk melakukan pemolesan.

Setibanya aku di rumah, aku tak langsung mengerjakan project-ku.
Hari cukup panas di Gresik, saat itu sekitar pukul setengah 1 siang.
Aku melakukan aktivitas seperti makan, sholat, menonton TV, dan bermain gadget karena siang itu aku tak bisa tidur siang.

Bosan dengan semuanya, aku mengambil jilbabku, vernis, dan kuas. Aku keluar menuju teras untuk melihat kondisi kursi ayah.
"Sangat usang dan jelek" batinku.
Aku mulai menyiapkan kebutuhan lain seperti lap dan air untuk membersihkan debu yang telah banyak menempel sejak ayahku tak lagi menduduki kursi itu.

Sebelum aku memulai pekerjaanku, kakak laki-lakiku datang. Ia membantuku dipermulaan untuk mengecat kaki kursi. Tapi aku tak tahan, tanganku sangat gatal.
"Sini, biar aku saja yang ngecat. Udah, aku bisa kok"
Dengan sedikit pemaksaan, akhirnya aku berhasil membuat kakakku menyerahkan kuasnya.

Gerakan tanganku mulai menyusuri setiap bagian dari kursi kayu itu.
"Ah ternyata capek juga ya jadi tukang" sedikit kuusap keringatku.

Setiap detik aku mengingat ayah sembari menjangkau detail-detail kecil kursi dengan kuasku.
"Perempuan harus bisa melakukan pekerjaan laki-laki" pesan ayahku dulu ketika beliau sehat.
"Kamu harus bisa melakukan apa-apa tanpa ayah."
Ayahku mengajarkanku bagaimana cara membandrek mobil mogok, mengganti lampu, memperbaiki yang bocor, memaku, mengecat, menggergaji, dan sebagainya.
Ayah selalu berpesan padaku untuk jadi perempuan yang mandiri.
Dan aku beruntung pernah mendapat banyak ilmu dari ayahku.

"Raaa, cucian belum selesai disetrika, udah ngerjain yang lain aja" ku dengar ibuku berteriak memanggilku.
"Aku bosan, biar aku kerjakan ini dulu, Bu" yaaa, aku tengah bosan menyetrika bajuku yang telah kering dan ku angkat dari jemuran.

"Ibu ini, ganggu aku nostalgia aja" aku hanya membatin, tapi aku juga tertawa melihat kelakuanku sendiri.

Kaki hingga badan kursi telah aku cat.
"Cantik sekali"

Ada sedikit rasa puas di hati, berhasil melakukan hal-hal yang dulu diajarkan ayah padaku. Ayah selalu mengajarkan kesederhanaan pada anak-anaknya. "Ayahku yang multitalenta, semoga engkau senang melihat anak kecilmu ini tumbuh dewasa, mencoba mandiri tanpamu."

Kursi ini akan segera bisa digunakan di dalam rumah. "Kau tak kan kesepian lagi di luar" ucapku pada kursi ayah.

Sebelumnnya aku telah memotret kursi itu, dan setelah dicat, aku sempatkan memotretnya lagi. Aku ingin tahu perbedaan before-after-nya.

Selasa, 28 Juli 2015

Mengejar dunia untuk akhirat?

"Memangnya bisa mengejar dunia untuk akhirat?"
Pikiran dan nuraniku sulit sekali berjalan beriringan dan sepakat akan hal ini.

Semangatku pun sama seperti iman, yazid wa yankus, turun-naik-turun-naik.

Siapa saja boleh bercita-cita, termasuk seorang perempuan berusia 20 tahun yang menulis tulisan ini.

Jika aku diminta memilih antara dunia dan akhirat, aku pasti menjawab aku ingin meraih keduanya, menggeggam keduanya.
Tapi, aku hanya manusia biasa yang tak punya daya dan upaya kecuali jika Tuhanku Yang Mahakuasa memberinya.

Aku pernah sangat bersemangat dalam membuat rencana hidup setelah membaca beberapa buku motivasi. Aku sangat bergairah untuk mendapat dunia dan tetap meraih keindahan abadi di kehidupan akhir yang sesungguhnya nanti.

Aku tidak akan menceritakan planning itu di tulisan ini karena aku rasa akan terlalu panjang, biar nanti aku ceritakan di postingan lain di lain kesempatan jika Allah Ta'ala masih memberiku kesempatan.

Aku mulai mengikuti beberapa organisasi untuk mengembangkan diriku, aku berharap aku bisa berkembang pesat hingga melejit dan nantinya aku bisa meraih segala macam cita-cita mulia yang didambakan hati kecil dan pikiranku yang saat itu sepakat untuk mengejarnya.

Tapi rupanya diri ini bagai kapal di tengah lautan. Air tak kan pernah berhenti bergerak. Setenang apapun ombaknya, kapal akan terus bergoyang mengikuti gerakan air laut. Sepertinya itulah aku. Kecil di tengah laut, mudah sekali terombang ambing.

Jika aku berada di tempatku menimba ilmu dunia, aku begitu optimis bisa mencapainya, tapi ketika aku pulang ke tempat asalku, mendalami ajaran agamaku, justru aku semakin tak bersemangat mengejar dunia. "kenapa aku tidak fokus saja dengan akhiratku? Untuk apa aku mengejar dunia? Memang sukses di dunia dibawa mati? Bukannya yang paling dinanti dalam hidup adalah ucapan Laa ilaha illallah sebelum nyawa ini benar-benar dicabut dari raga?"

Apakah semua harapanku hanya nafsu? Dan apakah aku mendapat siraman air ketika aku mendalami agamaku sehingga api itu mulai padam? Entahlah aku pun tak memahami sebenarnya apa yang terjadi dalam diriku.
Mungkin engkau yang membaca ini pun bingung dan menganggapku aneh. Tapi aku benar-benar tak tahu apa jawaban dari pertanyaan pertanyaanku.

Aku kehilangan semangatku yang berapi-api untuk mengejar mimpi yang kurangkai sendiri. Aku sempat berfikir, saat nanti waktunya tiba, aku akan mengakhiri kontribusiku di organisasi yang menurutku bisa menjadikanku berkembang meraih dunia untuk menjemput akhirat, kemudian berfokus berbakti ke orang tua, menyelesaikan studi pendidikan dokterku, dan rajin mengikuti kajian. Tapi aku takut pikiran ini hanya sebatas kejenuhanku saja terhadap rutinitas organisasi.

Dunia dan akhirat bagaikan minyak dan air, mereka dapat disatukan dengan membuat emulsi menggunakan sabun. Tapi, aku belum memiliki sabun itu. Dimana aku bisa mendapatkannya? Aku bisa membelinya? Jika iya, apa yang harus aku korbankan? Jika tidak, apa yang harus aku lakukan?

Seharusnya aku sholat, bukan malah menulis di blog. CMIIW.
Tapi aku tak diizinkan sholat saat ini. Mungkin mengingat Allah akan lebih melegakan dibanding dengan menulis blog ini. Tapi, jika kau punya saran dan pendapat mengenai hal ini, aku sangat welcome untuk berbagi, chat saja @bahiraa di LINE atau nbahiratul@gmail.com

Trims,

Bahira

Jumat, 24 Juli 2015

Selamat jalan "pangeran berkuda"

Seperti pagi-pagi yang lain, kumandang adzan shubuh menggetarkan gendang telinga, memberi impuls kepada seorang muslim untuk segera membuka mata, menghadap kepada Tuhannya.
Aku segera membuka mata, mematikan notifikasi dari Noteku. Belum ingin segera beranjak, aku masih memutar badanku di atas kasur kotak dan empuk itu, ingin sekali menarik kembali selimut di pagi yang dingin itu, benar-benar dingin, tak sedingin biasanya. Aku kira Gresik sudah berubah menjadi Malang di musim Maba.
Ibu mengucapkan sebuah kata yang ampuh "Shubuh, Ra" lalu melanjutkannya dengan takbiratul ihram. Aku mulai menggerakkan setiap tulang punggungku, mencoba menyusun tulang-tulang belakang itu hingga ke posisi anatomis. Mataku melihat sebuah lampu indikator menyala dan saat itu pun aku menyadari bahwa ini bukan dinginnya Malang, mungkin aku rindu pada kota rantauku. Ibuku malam tadi menyalakan AC dan juga kipas, pantas saja suasana tidur malam tadi tak seperti biasanya.
Di tengah sholat ibuku, dengan sedikit mengeluh "dingin" aku beranjak ke kamarku, aku kini tak tidur sendiri, aku tidur di kamar orang tuaku sejak aku merantau di Malang dan hanya sehari pulang. Terutama kini aku wajib menemani ibuku tidur di kamarnya sejak ayah mendahului kami. Aku mulai mengganti pakaian tidur yang tidak diketahui kesuciannya, mungkin saja aku memproduksi saliva saat tidur dan menetes ke bajuku, atau mungkin darah nyamuk yang tak sengaja ku pukul malam tadi mengotori baju tidur itu. Masih disertai kedinginan yang belum habis dari kamar ibu, aku mulai memutar kran air, mencuci tangan, berkumur, sedikit membasuh mata, lalu berwudhu.
Sholat shubuh sudah kudirikan. Biasanya setelah itu aku mulai mendengar rekaman dari guru agamaku dan menuliskan terjemahan dari kitab yang akan dipelajari setiap jam 6 pagi. Tapi, aktivitas hari ini sedikit berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Hari ini ngaji diliburkan karena guruku harus pergi ke suatu tempat selama beberapa hari. Tak ingin kembali tidur dan kehilangan berkah pagi hari, aku memandangi kamarku. Yah, kamar yang cukup kotor, sudah beberapa bulan mungkin bahkan setahun aku tidak menempati kamar itu, hanya tempat pakaian dan kadang aku gunakan untuk sholat saja agar masih tetap terjamah.
Masker kukenakan karena aku rasa tak kuat menahan debu yang masuk terperangkap di lubang hidung. Aku mulai dari kolong bawah kasur. Merasa itu sangat kotor, aku pun mengambil handscoon, tampilanku sudah mirip seperti saat mau praktikum, hanya saja aku tak memakai baju pelindung.
Di tengah-tengah sapuan tanganku terhadap debu-debu di kamar, aku mendengar speaker langgar berbunyi. Aku mencoba menebak "sepertinya ini berita duka, tapi siapa". Aku menyimak, memperhatikan setiap suku kata tapi tetap saja suaranya cukup samar, pemberi pengumuman sepertinya menyebut nama "Mad Chozin usia 60 tahun".
Aku mereka-reka. Usianya sama seperti ayahku, namanya seperti aku pernah dengar, tapi entah siapa, aku tak bisa menyambungkan sinaps untuk mendapat memori tentang nama itu.
Aku mulai mengabaikan berita tadi. Hanya sempat mendoakan kepada si mayit lalu aku kembali ke urusanku. Hingga kakak sulungku muncul karena dia akan segera berangkat menuju rumah sakit. Kakakku seorang dokter, Izzuddin Syahbana namanya, tapi aku biasa memanggilnya Cak Yud. Aku mendengar sedikit percakapan ibuku dan kakakku, tapi kurang jelas. Hingga akhirnya ibu mendekati pintu kamarku dan berkata "Ra, kak Lajim meninggal dunia". Aku pun tersentak, kaget. Ternyata bukan Mad Chozin, tetapi Achmad Lazim.
Kak Lajim adalah tetanggaku di rumah lamaku yang sekarang dijadikan toko dan gudang. Sewaktu aku kecil, setiap hari libur aku selalu meminta untuk naik ke dokar milik Kak Lajim. Ia membawa anak-anak kecil berkeliling dengan ditemani alunan lagu anak-anak, abang tukang bakso adalah salah satu favoritku. Tak seperti anak-anak zaman sekarang yang berjalan-jalan menaiki kereta-kereta kecil dengan iringan musik dangdut yang sarat akan lirik-lirik yang menggoda dan jorok, tidak cocok sama sekali untuk anak kecil, sangat tidak mendidik.
Aku masih ingat bagaimana girangnya hatiku ketika rute jalan-jalan dengan kereta kuda waktu itu diganti. Biasanya hanya berputar di sekitar Manyar, tapi saat itu Kak Lajim membawa anak-anak kecil ini ke GKB yang saat itu masih belum seramai sekarang. Hanya membayar 1000 rupiah saat itu aku sudah bisa berjalan-jalan jauh (waktu itu aku menganggapnya jauh).
Ibuku belum bisa keluar untuk melayat karena masih dalam masa iddahnya, jadilah aku yang harus mewakili melayat menyampaikan bela sungkawa keluarga kami. Aku ikut tahlil dan menyaksikan jenazah Kak Lajim dibawa ke Masjid untuk disholati. Aku pun sempat mendengar cerita dari istri yang beliau tinggalkan. Beliau orang yang luar biasa, bahkan di akhir sebelum beliau sakit dan tak bisa kemana-mana, beliau memperjuangkan sholat berjama'ah. Saat itu istri beliau melarang beliau keluar karena alasan kesehatan beliau yang sangat menurun, namun beliau menolak "Dulu aku sholat di Masjid, sekarang turun di Musholla, masa sekarang mau ga ikut jama'ah, pahalanya cuma 1". Beliau tetap berangkat ke musholla, menaiki sepeda pancalnya. Dan saat itu terakhir beliau berjamaah, karena sepulang dari musholla, beliau jatuh dari sepedanya di jalan. Hingga akhirnya beliau sakit selama kurang lebih 1 bulan setelah jatuh itu dan diambil nyawanya hari ini, sekitar pukul 04.00 dini hari.
Selamat jalan "pangeran berkuda", semoga segala amal ibadahmu diterima. Mohon ampuni beliau Ya Allah.
Aaamiin
Tertanda,
Penumpang dokarmu yang dulu kecil dan kini sudah dewasa.
●●●
Akhir-akhir ini aku cukup aktif menulis, mungkin karena libur, aku jadi memiliki cukup waktu untuk mencurahkan segala sesuatu yang ada di pikiranku.
Mohon maaf kepada sahabatku, aku kemarin berkata bahwa postingan di blogku selanjutnya akan menceritakan mengenai "Bahira", namun berita duka ini membuatku belum bisa menuliskan "Bahira"ku.
Aku pun ingin menceritakan tentang pergolakan pikiranku akan karirku di masa depan dan tentang perubahanku saat ini. Tapi tunggu saja, aku akan segera membuatnya saat aku sempat.
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.