Jumat, 20 November 2015

Bersamamu, Ibu

"Mad, pindah" kata Khalfi sambil mengusir Rahmad yang menduduki tempat dudukku.
Aku baru saja sampai dan masih ngos-ngosan setelah naik tangga sampai ke lantai 3.
Baru saja aku duduk, belakangku sudah memanggil dan aku pun menengok "Ra, dari Mbak Lusi"
Sebuah undangan resepsi pernikahan bersampul keras berwarna hijau. Mbak Lusi adalah kakak tingkatku di kedokteran, beliau angkatan 2011 dan kami saling mengenal karena pernah menjadi delegasi lomba ke Semarang. "deg" rasa hatiku saat menerimanya. Bukan galau karena ingin segera menyusul, tapi aku terharu. Kami saling mengenal tak terlalu lama, tapi Mbak Lusi masih ingat saja pada adek tingkatnya yang satu ini. Ku akui beliau salah satu figur kakak tingkat yang bisa jadi salah satu panutan. Tanpa pacaran dan menye-menye anak muda, tiba-tiba bulan Syawal kemarin Mbak Lusi mengganti statusnya menjadi "Menikah". Aku turut berbahagia. :) Semoga sakinah mawaddah wa rahmah, barakallahulakum. Aamiin
Hari ini pelajaran jam pertama tak berlangsung lama, beberapa temanku melanjutkannya dengan sarapan. Satria dan Hakiem membawa bekal, nasi goreng masakan Satria. Enak juga. Kata orang, ketika laki-laki bisa masak, dia romantis. Hahaha
Bukan masalah itu, tapi aku cukup malu jika harus kalah dengan seorang laki-laki seperti dia dalam urusan memasak. Asal bicara, aku langsung nyeletuk "Sat, kamu mau ga jadi istriku? kapan lagi ada cewe ngelamar kamu? hahahaha"
Beberapa hari ini Satria selalu membawa makanan yang ia bawa sendiri dan dibagi ke teman-temannya seperti aku. Bahkan dia janji hari Jum'at mau membawakan aku bekal makan siang masakan dia. Kami bersahabat, hidup dalam satu perkumpulan yang tidak sengaja diberi nama AEON. Aku merasa tertantang seperti apa nantinya hasil masakannya. Aku sendiri belum pandai memasak, belum sebulan aku tinggal di kos baruku yang dilengkapi dapur. Aku sudah mulai belajar memasak, tapi aku masih belum percaya diri. Aku saja melarang Rahmad mencicipi bekal masakanku, karena memang Rahmad adalah tipe orang yang suka mengomentari makanan. Aku malu, takut ternyata rasanya tidak enak dan akan mendapat olok-olok dari Rahmad. Hanya dua orang yang benar-benar aku biarkan memakan masakanku hari ini, Khalfi dan Fika, ya mereka adalah sahabat perempuanku yang aku percaya.
Siang ini perkuliahan berjalan cepat, pukul 13.00 aku sudah bisa pulang. Tak sengaja menemukan seorang penjual mangga. Aku tiba-tiba ingin membelinya.
"Berapa, pak?"
"22.000 mbak, satu kilonya 15.000"
(Hah? semahal itu kah? Jujur aku ga tau harga mangga di pasaran)
Aku biasa menikmati mangga gratis di rumah. Karena aku punya sebuah pohon mangga yang selalu berbuah tiap tahunnya. Sampai kos aku ingin sekali menelpon ibuku. Teringat semua kejadian hari ini, aku teringat ibu. Sambil ingin bertanya tentang mangga di rumah, apakah sudah berbuah.
Aku memencet tombol dial dan menunggu sampai ibu mengangkat. Namun ibu tak kunjung menjawab telponku. Aku sadari, saat itu adalah waktu tidur ibuku. Baiklah
Bu, aku kangen. Ingin rasanya pergi meninggalkan semua yang ada disini dan pulang, tidur sama ibu.
Bu, wujud perhatianku tak bisa kuucap dengan kata-kata. Tapi aku benar-benar ingin berbakti pada ibu. Apa yang bisa kulakukan, Bu, untuk membahagian ibu selain sekolah dan belajar dengan benar?
Aku akan mengerjakannya semampuku. Aku ingin membantu meringankan bebanmu, tapi aku pun tak punya cukup daya dan usaha. Ingin berbisnis pun, aku bingung. Aku cukup menghabiskan waktuku di kampus untuk kuliah seharian penuh dan dilanjut rapat hingga matahari terbenam. Aku hanya bisa berhemat saat ini. Menahan segala keinginan beli ini itu untuk menabung dan mungkin nantinya akan memulai sebuah usaha kecil-kecilan. Mudah-mudahan saja berhasil.
Melihat undangan dari Mbak Lusi dan mengingat Ibu secara bersamaan membuatku teringat sebuah obrolan kami saat itu.
"Bu kalau aku lanjut kuliah di luar negeri, ibu seneng?"
"Biayanya gimana?"
"Beasiswa, Bu, doakan saja. Kalau kayak gitu gimana, Bu?"
"yaaa, seneng... tapi nanti anak ibu hilang lagi"
 Itulah seorang ibu, terlebih di masa tuanya, pasti menginginkan bersama dengan buah hatinya. Aku sangat memahami itu. Oleh karenanya aku tak benar-benar kekeuh ingin pergi jauh. Tak seperti dulu, aku selalu ingin kuliah di tempat yang jauh dari rumah, agar aku tak pulang-pulang. Aku kuliah di Malang dan aku sangat bersyukur Malang-Gresik bisa ditempuh paling cepat dalam 2.5 jam dengan kendaraaan pribadi, dan sekitar 4 jam dengan kendaraan umum. Aku bisa pulang kapan saja aku ingin dan mampu.
Tapi sayangnya, aku cukup jarang pulang. 1-1.5 bulan sekali. Padahal targetku 2 minggu sekali aku bisa pulang.
Semuanya karena kegiatan di kampus.
"Jadi kamu nyalahin kegiatan kampus"
"Engga sih, cuma ya gitu lah" 
Hahaha bicara sendiri adalah salah satu hal yang cukup sering kulakukan jika sedang merasakan sebuah pergolakan.
3.5 tahun kuliah S1, lanjut 1.5-2 tahun pendidikan profesi, dan 1 tahun internship. Itu bukan waktu yang cepat. Selama itu aku harus berada di luar rumah. Meninggalkan keluargaku terutama ibuku.
Pernah suatu ketika kakakku berkata "kamu ga usah punya kamar ya, toh nanti setelah lulus kamu menikah dan keluar dari rumah"
Segitunya? Sejarang itukah aku pulang hingga kamarku mau diambil alih? Tapi memang benar, aku sudah jarang memakai kamarku, setiap pulang pun aku tidur di kamar ibu.
●●●
"Kamu nikah aja sama orang Lumajang"
"Orang Lumajang siapa cobaa?" Tanyaku sedikit nyolot pada kakak perempuanku
Kami sedang bercanda saat itu, masih dalam suasana lebaran Ied Fitri, hingga turunlah dari lantai 2 kakak laki-lakiku, sekaligus Waliku.
"Coba, coba tanya ke bapak wali" kata Mbak Icha
"Kalo aku nikah sama orang Gresik gimana?"
"Enak dong deket, ya kalo bisa yang deket"
"Kalo orang Jawa Barat? Kalimantan? Probolinggo?"
"Jauh amat"
"Kalo orang Malang?"
"Banyak banget sih pilihannya.. emang laku?" Kalimat terakhir itu membuatku diam menahan tawa dan bertanya pada ibuku
"Bu, kalo ternyata jodohku bukan orang daerah sini atau nanti habis nikah aku hidupnya pindah-pindah ngikut suami gimana, Bu?"
"Terserah kamu, paling ibu juga udah meninggal"
Sebuah kalimat yang singkat dan menakutkan. Setelah ibuku kehilangan ayah memang ibu jadi sering begini. Seperti kehilangan sebagian besar semangat hidup.
Tapi, Bu...
Haruskah yang Ibu bayangkan seperti itu? Apa Ibu tidak ingin melihat aku jadi orang dewasa yang sesungguhnya?
Bu jika waktu bisa dihentikan, aku akan minta waktu berhenti saat ibu bersamaku, saat kita bahagia, tanpa sedih sedikitpun.
Tapi, Bu. Hidup memang sudah diatur segalanya oleh Allah.
Kita tak tahu, bisa saja aku pergi lebih dulu sebelum ibu.
Tapi yang pasti, siapapun yang mendahului, aku ingin terus bersama ibu, kelak di surga, berkumpul dengan keluarga dan orang-orang yang kita cinta.
Saat ini, aku benar-benar ingin pulang.
-Bahira-

Jumat, 09 Oktober 2015

Seminggu untuk Selamanya

"Diberitahukan kepada penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 0706 tujuan Surabaya, karena alasan operasional penerbangan  ditunda hingga pukul 15.30 waktu setempat. Mohon maaf atas keterlambatan ini"

Aku tergeletak lemas karena kurasa kurang istirahat dan telah menunggu dari pukul 09.15 WITA smpai 13.35 WITA di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Lelah memang, tapi tidak terasa karena masih sangat melekat euforia yang terjadi dini hari tadi.

●●●

"Peringkat tiga, setara perunggu untuk PKMP kelas 6, diraih oleh....."

"Allahummasholli 'ala sayyidina Muhammad, Ya Allah hamba mohon Ya Allah kabulkan doa hamba dan teman-teman hamba kali ini, Allahummasholli 'ala sayyidina Muhammad" mata yang telah memanas hampir pukul setengah dua belas malam ini memejam. Bukan untuk tidur, tapi berdoa sepenuh hati, menanti pengumuman juaranya.

"Universitas Udayana......"

"UNUD? How can? Sepertinya ini persaingan sulit." Sahut salah satu partner dalam timku.

Pengumuman itu sangat diluar ekpektasi. Sebagai peserta ajang ini, aku memperhatikan siapa-siapa yang kira-kira berpotensi menjadi juaranya. Aku mengira, 3 terbaik dari 20 tim di ruanganku adalah UNAIR, UGM, UB, atau IPB.

"Selanjutnya, peringkat kedua, setara perak, diraih oleh......"

Doa-doa semakin kencang terucap dalam hati yang semakin terguncang.

"Universitas..........
Brawijaya"

Seketika itu semua pasukan kontingen UB berdiri dan meneriakan jargon "Siapa kita? BRAWIJAYA! Siapa kita? BRAWIJAYA! Siapa kita? BRAWIJAYA! Brawijaya, satu kata, satu jiwa, Brawijaya JUARA!"

Senang? Pasti !
Tapi, tim siapa? Di ruang PKMP 6 ada 2 tim dari UB. Tim dari REVERT atau EBES juaranya? Kami tak sempat mendengar nama pemenangnya karena teriakan kontingen yang begitu bersemangat.

Galau? Sangat!
"Aku yakin itu tadi tim kita" kata ketua timku, meyakinkanku yang begitu khawatir.

"Gen, itu tadi tim siapa ya, Gen?" Tanyaku pada Genitri, teman satu kontingenku. Dia juga tengah merasakan hal yg sama. Ketika juara dari ruang PKMP 5 disebut, UB meraih perak, tapi kami tak tahu tim siapa karena ada 2 tim Brawijaya di ruang itu.

"Ah yasudahlah, ikhlas aja yah apapun yg terjadi"
"Semoga REVERT ya, Ir" Lila memberikan kekuatan padaku. Tim Lila pun telah meraih medali perak untuk kategori presentasi di ruangan PKMP 3.

Pembacaan pemenang masih terus berjalan.
Semakin memanas karena skor UB, ITS, dan UGM terus susul menyusul.
Jargon UB sudah berkali-kali diteriakkan. Lompatan, ucapan syukur, sholawat, basmalah, apa saja kami lakukan.
Mules, deg-degan, takut, senang bercampur jadi satu.
Tahun ini UB benar-benar menargetkan untuk merebut gelar juara umum dalam PIMNAS 28 di Universitas Halu Oleo, Kendari.

Sambil terus mendoakan yang lain, doa untuk tim sendiri juga terus terangkai.
"Kalau ternyata itu bukan REVERT, mungkin rasanya akan seperti ketika besok adalah hari akad nikah, tapi batal"

Ikhlas tapi masih berharap. Bisa disebut ikhlas? Entah. Tapi yang pasti aku yakin kalau berharap itu boleh, dengan berharap artinya kita yakin Allah bisa melakukan apapun

●●●●

"Seminggu untuk selamanya" salah satu potongan lirik Mars PIMNAS yang ditulis oleh Rektor UHO ini benar-benar mengena.

Kenangan 1 minggu yang mungkin tak kan terlupa.
Kini, aku rindu sekali dengan ibu. Ingin kuucap terima kasihku karena ibuku selalu mendoakanku.

Aku juga merindukan ayah.
"Semoga kamu sukses" adalah doa ayah saat beliau sakit di penghujung usianya. Aaamiin. Semoga ini adalah permulaan dari terkabulnya doamu, yah. Aku yakin doa orang sakit itu mustajabah.

Kini tinggal ibu yang selalu mendoakan, tapi aku lebih yakin lagi bahwa doa seorang ibu sangatlah mudah dikabulkan.
Ibu, ku inginkan pulang.
Maaf jika aku terlalu sibuk dengan urusanku.
Bukan berarti aku tak rindu. Aku hanya ingin menuntaskan amanah  yang telah diletakkan dipundakku.
Kuharap engkau sehat dan bahagia selalu, ibu :')

-Seseorang yang sedang merindu-

Jumat, 25 September 2015

Sacrifice ; Selfless way to love

"Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar
Laa ilaha illallahu Allahu akbar"
Kumandang takbir sepanjang malam hingga menjelang sholat ied sungguh membuat suasana lebaran hajiku tahun ini meriah. Apa istimewanya? Bukankah setiap hari Ied pasti ada takbiran? Ya betul, tapi tahun ini berbeda karena tahun ini aku kembali merayakannya di rumah setelah 2 tahun di tanah rantau merayakan qurban di desa dan di kampus bersama teman-teman :')

Sholat Ied di Masjid Al-Amin, mendengarkan setiap kata dari khutbah yang disampaikan dengan penuh khidmat.
Menceritakan kisah seorang hamba yang masuk surga karena ia selalu berqurban setiap tahunnya. Dalam keadaan miskin, beliau bertekad untuk selalu berqurban setiap hari raya Iedul Adha dengan menabung setiap harinya, menyisihkan uangnya, bahkan mengesampingkan kebutuhannya agar bisa membeli hewan qurban. Hal ini ia lakukan karena kecintaannya kepada Allah SWT.
Hingga ketika beliau meninggal, seseorang ingin bertemu dengannya dalam mimpi. Setelah sholat 2 rakaat, orang tersebut tidur dalam keadaan telah berwudlu dan meminta Allah untuk memperlihatkan dalam mimpinya kondisi tuan miskin setelah meninggal.
Orang itupun bermimpi dia sedang dalam hari pembangkitan dan dilihatnya tuan miskin menaiki kendaraan yang indah dan kuat melewati shirathal mustaqim menuju surga. Mereka bercakap sebentar dan tuan miskin berkata bahwa Allah telah mengampuninya, yang dinaikinya adalah qurban-qurbannya selama ia hidup, dan yang menjadi tunggangannya adalah qurban pertamanya di dunia.
Khutbah pertama kemudian ditutup dengan motivasi dari khotib bahwa orang miskin saja mampu berqurban, bagaimana dengan kita yang sebenarnya berkecukupan?

Khutbah tersebut cukup menyentil dan aku pun merasa tersindir.
Ya memang aku belum memiliki penghasilan tetap, tapi bukankah seharusnya aku juga bisa seperti tuan miskin tadi?
Terlebih tahun ini ternyata keluargaku berqurban, semua anggota rumah ikut patungan untuk membeli seekor sapi, kecuali aku. Aku juga tak tahu kalau tahun ini kami berqurban. H-1 hari raya aku baru mendapat cerita dari kakakku kalau semua (kecuali aku) patungan untuk membeli hewan qurban. Semuanya tak direncanakan, kakakku berkata awalnya juga mengira bahwa kami tidak berqurban tahun ini, tapi tiba-tiba ibu memutuskan untuk berqurban seraya berkata "Dengan qurban pasti rezeki makin lancar, diganti sama Allah lebih banyak"
Semangat ibuku sudah kembali setelah ayah pergi. Ibu semakin bersemangat mencari rezeki, semakin percaya bahwa Allah sudah memplot rezeki untuk kami.

Sholat Ied dilanjut dengan makan bersama keluarga besar ibu dan menziarahi makam ayah. Hari itu pertama kalinya ibu mengunjungi makam ayah, air matanya langsung mengalir. Inilah bentuk cinta seorang istri. Masa iddahnya baru habis sekitar 10 hari yang lalu. Hidup bersama selama lebih dari 30 tahun, satu sama lain pasti sudah banyak berkurban, lika-liku kehidupan rumah tangga dijalani hingga ajal yang memisahkan.

●●●

"Waaah senang ya"
Aku mendengar suara itu tepat dari sampingku, Mbak Sila, pegawai setia dari kakakku ikut membantu proses pemotongan hewan di rumah kami. Dia sedang mengobrol dengan Mbakku.
"Aku belum pernah mbak pegang daging sebanyak ini, kalau di kampung biasanya ada orang qurban ya nggak ikut2an kayak gini"
"Ya Allah senengnya yaaa, makan daging setahun sekali"

(Deg) lagi-lagi aku mendapat sebuah peringatan, hingga aku berpikir "apa benar makan daging hanya setahun sekali? Betapa dzolimnya aku jika aku tak bersyukur padahal setiap hari aku bisa makan daging kapanpun aku ingin"

Aku berpura-pura tidak mendengar obrolan mereka dan terus melanjutkan pekerjaanku memisahkan daging-daging dari tulang di kaki-kaki sapi di depanku. Sesekali aku mengasah pisau yang mulai tak tajam sembri terus mengasah hati yang cukup tak peka terhadap sekitar. Capek memang, tapi melihat semangat tetangga-tetanggaku yang turut membantu, rasa lelah itu tak sebegitu terasa. Terlebih ketika melihat orang-orang yang datang berterima kasih senang karena mendapat satu kresek kecil daging untuk dibawa pulang.

Aktivitas pagi ini di akhiri dengan makan siang bersama tetangga-tetangga rumahku setelah kami cukup lelah berjuang bersama daging-daging dan tulang-tulangnya.

Dokumentasi hari ini aku lampirkan.
Semangat baru semakin membara.
Aku sedang merintis sebuah usaha bersama 4 orang temanku. Semoga usaha kami lancar dan diberi keberkahan.
Semoga hasil usaha itu bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.
Aaamiin Ya Rabbal'alamin
Senang sekali jika kamu, yang membaca tulisan ini, juga bersedia untuk mendoakan kami :)

Selamat hari raya Idul Adha, semoga tahun berikutnya kita diberi kesempatan untuk berqurban dan menunjukkan cinta kita kepada Allah. Aamiin
Sacrifice is a selfless way to love :)

Warmest regards,

Bahira

Senin, 24 Agustus 2015

4 nilai, 2 pilar, banyak budaya, FKUB

-Religius, moralis, intelek, professional, kolegalitas, kepemimpinan-

Selamat pagi,
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Tak terasa sebentar lagi musim ospek.
Saya seorang mahasiswa tingkat tiga di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Sejak awal ospek, disini kami menyebutnya Probinmaba, saya makin jatuh hati dan merasa sangat beruntung Allah menakdirkan saya menuntut ilmu disini. Why? Kenapa? Kok bisa begitu? Bukankah ospek adalah hal yang menyebalkan? Ya memang, kebanyakan ospek di luaran sana sangat extreme dan dibumbuhi dengan perpeloncoan. Tapi disini sangat jauh berbeda, senioritas tetap ada namun dalam kemasan yang indah. Evaluasi, bentak membentak, dan hukuman diberikan dengan cara yang anggun. Kalau tidak percaya, kalian coba saja ospek di FKUB hehe.
Baiklah, langsung saja saya ceritakan. Salah satu hal yang paling saya sukai dari kehidupan di FKUB adalah budayanya. Sejak awal masuk kami dikenalkan dengan budaya SPMK (Standar Pakaian Mahasiswa Kesehatan). Awalnya memang terlihat seperti ribet "ih ribet, pake baju saja ga boleh gini gitu", tapi jika kamu coba mendalami esensinya, pasti kamu tak menemukan kerugian dibalik memakai SPMK, justru membuat kalian terlihat indah. Selain cara berpakaian yang diatur, kami juga ditanamkan dengan nilai-nilai kolegium (ini harus hafal di luar kepala). Ada 4 nilai kolegium yang tersusun secara hierarki namun semuanya harus dimiliki dalam taraf yang sama. Religius, moralis, intelek, profesional. Nilai religius menjadi hal yang paling utama, tapi tetap tak mengesampingkan nilai-nilai lainnya. Semuanya sama penting dan sebisa mungkin dimiliki setiap orang, saya rasa bukan hanya mahasiswa FKUB. Susah memang, tapi paling tidak kita berusaha. Dalam probinmaba kami juga dikenalkan dengan pilar pembinaan yaitu kolegalitas dan kepemimpinan. Ke enam sifat ini tak bisa begitu saja dimiliki seseorang, melainkan memang harus dibiasakan dan dibentuk. Dalam prosesnya mungkin berat, tapi jika sudah bisa menjalaninya, pasti akan baik. Tak hanya itu, kami juga dikenalkan dengan budaya 5S no S. 5 S, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun. Lalu no S ? NO SMOKING yah kita kan calon tenaga kesehatan yang kampanye anti rokok, mana boleh kita sendiri merokok. Sejak pulang ospek, saya jadi manggut-manggut kalo ketemu orang di jalan, kebiasaan di FKUB hehehehe.
Semua hal positif ditanamkan dalam rangkaian probinmaba yang berlangsung kurang lebih selama 1 tahun. Saya ingin berpesan pada adik-adik Maba, jangan pernah mengeluh. Kalian harusnya bersyukur karena kakak-kakak kalian telah berjuang mati-matian mempersiapkan ospek kalian. Pikiran, tenaga, perasaan, kantong dan semuanya diperas. Mereka memperjuangkan kebaikan kalian, mereka bela-belain ngabisin waktu libur mereka di kampus, demi kalian, jangan sia-siakan. Tugas-tugas yang diberikan pada kalian semuanya memiliki esensi. Saya hanya mahasiswa biasa, bukan bagian dari panitia ospek, tapi saya sangat miris jika ada orang tua / wali mahasiswa yang memprotes ospek di tempat kami. Saya bingung, apakah mereka tidak ingin anaknya tumbuh menjadi insan yang baik? Apakah mereka benar-benar terlalu sayang pada anak mereka hingga menginginkan segala kemudahan bagi anak mereka yang justru nantinya dapat menjerumuskan anak mereka kenjurang kemanjaan dan kelemahan? Kadang mereka berdalih tugas-tugas ospek mengganggu waktu belajar. Ayolah, mereka sedang dididik mengatur waktu, mereka sedang dibiasakan dengan kehidupan tenaga kesehatan yang nantinya akan jauh lebih keras dan menghabiskan banyak waktu. Toh disini mereka juga diperlakukan sangat manusiawi. Ayolah, orang hebat ga dibentuk dengan santai-santai, leyeh-leyeh, ketawa-ketiwi.
Sekian, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.
Terima kasih juga untuk kakak-kakak tingkatku yang baik hatinya ♡
Wassalam

Regards,
Bahira

*Sumber gambar : OFFICIAL LINE BEM FKUB

Sabtu, 08 Agustus 2015

Ini bukan hijrah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ukhtifillah,
Hmm baru pertama kali ini aku mencoba menggunakan kata itu.
Kurasa aku kurang pantas menyebutnya dengan lisanku. Hehe

Baiklah, hai sis :D

Aku ingin sedikit-banyak berbagi kisah, tentang hidayah dan taufiq.
Aku tak ingin menyebutnya sebagai "hijrah", karena kata-kata itu terlalu luar biasa dalam persepsiku.

Hidayah-
Ramadhan kali ini jauh berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, terutama beberapa tahun terakhir ini.
Tahun lalu, aku menghabiskan hampir 1 bulan ramadhan di kos, karena aku harus menempuh ujian dan semester pendek.
Tahun ini, hanya sekitar 3 hari di awal ramadhan yang aku lalui di kos.
Berkat rahmat Allah, aku mendapat nilai yang bagiku sendiri tak pantas ku dapat. Tapi memang rencana Allah lebih indah.
Dengan nilai itu, aku tak perlu menjalani semester pendek di tengah ramadhan. Aku bisa menghabiskan waktuku di rumah, membantu ibuku. Bedanya, tahun ini pertama kalinya aku melalui ramadhan tanpa ayah, ibu pun masih dalam masa iddah, sehingga belum bisa keluar untuk menjaga toko. Jadilah anak-anaknya berjuang bersama, mengompakkan diri membantu ibu.

Ramadhan kali ini aktivitasku cukup padat, aku tak bisa mengisi waktu-waktuku dengan ibadah sunnah, karena aku cukup lelah.
"Betapa sedihnya, ramadhan hanya datang 1 kali dalam setahun, belum tentu juga aku bertemu lagi tahun depan, tapi kenapa amalanku semakin menurun?"
Aku berpikir sendiri dan menemukan jawabannya.
"It's ok. You are doing right things kok, Ra. Kamu mendahulukan kewajiban membantu ibumu."
Pembelaan diri yang kulakukan hehe.
Selain membantu ibu, aku mengisi waktu pagiku untuk belajar agama di rumah kerabat yang sekaligus menjadi guruku.

"Aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan"
Ku rasa hampir semua perempuan muslim tahu akan hal ini. Tapi aku pun terkadang selalu punya pembelaan terhadap diriku untuk tak menutupnya dengan sempurna.

"Oleh karena itu, lengan sampai pergelangan tangan perempuan juga termasuk aurat, sebaiknya para perempuan memakai manset agar jika bergerak, lengan bajunya tidak tersingkap, dan aurat tetap dapat terjaga"
Ini pun, aku sudah beberapa kali mendengar. Tapi sepertinya hanya lewat telinga saja.
Hidayah ini tidak merasuk ke hati.

"Kaki perempuan juga aurat, maka dari itu hendaknya perempuan menutupnya, dengan kaos kaki misalnya"
Kalau yang ini, biasaya aku hanya memakai kaos kaki saat kuliah.

Ramadhanku terus saja berjalan dengan aktivitas-aktivitas yang telah ku uraikan. Aku, memang memakai kaos kaki ketika hendak berangkat ke toko atau kemanapun jika memakai motor. Why? Karena Gresik (tempat tinggalku) panas.
Itu memang alasan yang tak bernilai sama sekali. Tapi dulu aku melakukannya.

Hingga suatu ketika, tiba-tiba hidayah menelisik ke dalam hatiku.
Aku teringat akan sebuah tulisan yang pernah aku baca.
"Selangkah saja perempuan keluar rumah dengan membuka aurat, maka selangkah pula ayahnya terseret ke dalam neraka"
Ngeri bukan? Tapi dulu aku tak menggubrisnya.
Tapi entah kenapa semenjak ayah meninggal aku selalu menjadi perempuan yang mellow dan mudah galau, but I'm trying to be stronger.

Suatu ketika, selesai aku dan kakakku mengkaji agama, aku mencium tangan Budeku, yang merupakan ibu dari guruku sekaligus kakak dari Ibuku.
"Enak yo ayahmu, anak-e nurut-nurut kabeh ngene, wes tenang"
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maksud Bude adalah sekarang ayahku tenang di sana, karena anak-anaknya mau belajar ilmu agama dan penurut.
Entah kenapa kalimat itu begitu menusuk, tapi tak sakit.
Aku membayangkan bagaimana jika ayahku disiksa karena kesalahanku?

Aku pun teringat materi ceramah yang kusampaikan saat SMA (aku bukan penceramah, hanya sebatas tugas dari guru PAI).
Seorang wanita akan dipertaggungjawabkan oleh 4 laki-laki, ayahnya, suaminya, anaknya, saudara laki-lakinya.

Sepertinya Allah menancapkan hidaya ke qalbku.
Tapi apalah diri ini jika tak mendapat sokongan taufiqNya.

Taufiq-
Aku mulai membulatkan tekad. "Aku harus menutup kaki"
Karena hampir setiap hari aku pergi ke Pusat Grosir Surabaya untuk membeli keperluan toko, aku yang kebetulan mampir di toko kaos kaki pun tanpa pikir panjang meminta kakak perempuanku untuk membelikan setengah lusin kaos kaki warna coklat yang sedikit tebal. Harganya jelas lebih murah, karena aku membelinya grosir hehehe

Pagi-siang-malam, aku coba mengistiqomahkan diri untuk selalu memakai kaos kaki.
Beberapa kali ibuku bertanya tentang sikapku, aku belum berani berkata kebenarannya, aku hanya menjawab "biar ga gosong, bu. Pakai kaos kaki"
Tapi suatu ketika, ibuku melihatku memakainya di malam hari. Ibu pun langsung saja bertanya.
Entah, sepertinya Allah mengirimkan sebuah kekuatan padaku.
"Iya, Bu. Aurat" hanya dengan jawaban singkatku, ibuku diam dan sedikit tersenyum.

Perjalanan ini tak secepat itu. Aku belum berani memakai manset tangan, selanjutnya kita sebut saja handsock ya biar keren. Hihi

Aku hanya menimang-nimang handsock yang ada di toko. Perlu di ketahui, tokoku menjual keperluan sehari-hari, kaos kaki dan handsock pun ada, jadi jika aku perlu, tinggal ambil dan lapor ibu. Tapi kemudahan itu pun tak membuat aku sesegera mungkin memakainya. I don't know why. Mungkin seperti itulah hidayah tanpa taufiq.

Beberapa hari ini kakak laki-lakiku menjadi begitu cerewet dan bawel.
"Eh itu aurat" katanya ketika aku mengambilkan barang untuk pembeli sehingga lengan bawahku tersingkap.
Aku tak menggubrisnya, tapi memang nasihat itu perlu. Aku merasa mendapat dukungan terutama dari kakakku itu untuk menutup aurat sepenuhnya.

Aku memutar otakku lagi, mengaduk nuraniku. "Ini tinggal pakai, kamu ga perlu keluar uang lagi buat beli-beli di luar sana"
Butuh cukup waktu bagiku untuk menguatkan tekadku. Beberapa hari, 1 buah handsock mulai ku ambil dan ku pakai.

Aku mengutarakan niatanku itu di depan ibuku dan kakak perempuanku.
"Ga pake cadar sekalian?"
Aku diam dan menggelengkan kepala sambil tersenyum cengengesan ala anak bungsu.

Sudah hampir satu bulan aku sedikit berubah. Aku semakin percaya diri. Aku tidak tahu nanti bagaimana reaksi teman-temanku di kampus melihat sedikit perubahan ini. Tapi aku sangat berharap, apapun reaksinya, aku tetap akan istiqamah.

Untuk kawan yang juga sedang dilanda kebimbangan. Trust me. Jangan pernah ragu untuk berubah menjadi lebih baik :)
Aku mendapat ketenangan yang jaaaaauh lebih banyak dari sebelumnya.
Aku memang jauh dari sempurna. Tapi dengan perlahan melakukan perubahan menuju lebih baik, perubahan-perubahan lainnya akan mengikuti.

Menutup aurat tak perlu menunggu hatimu bersih sejernih air, tak perlu menunggu lisanmu selembut kapas, dan tak perlu menunggu tingkahmu seperti Puteri dan Ratu dalam Istana.
Yakin dan jadikanlah menutup aurat menjadi awal mula datangnya kebaikan dalam dirimu. Menambah rasa malumu. Semakin menjagamu.

Aku pun bukan perempuan yang sangat terjaga, diri ini masih penuh alpa. Tapi, tak ada yang salah dengan niatan dan usaha untuk menjadi lebih baik. Perlahan namun pasti menuju tujuan.
Tak usah berlari terlalu cepat. Karena aku takut, kita justru telalu cepat menjadi lelah, dan akhirnya berhenti.

Jika orang menghujat, yakinlah Allah akan menguatkan kita. :)

Dan bagi yang masih suka mengomentari orang. Tolong hargai. Hargai teman-temanmu yang ingin menjadi lebih baik. Bukankah menutup aurat itu menjalankan kewajiban agama? Ya. Kalian semua tahu itu. Lalu kenapa justru yang menutup aurat kalian pandang sebelah mata?

Sesungguhnya setiap apa yang seseorang kerjakan akan menjadi tanggung jawabnya sendiri. Dan apa yang kamu kerjakan akan menjadi tanggung jawabmu sendiri.

Wallahua'lam bisshowab.

Wassalamu'alaikum :)