Jumat, 09 Oktober 2015

Seminggu untuk Selamanya

"Diberitahukan kepada penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 0706 tujuan Surabaya, karena alasan operasional penerbangan  ditunda hingga pukul 15.30 waktu setempat. Mohon maaf atas keterlambatan ini"

Aku tergeletak lemas karena kurasa kurang istirahat dan telah menunggu dari pukul 09.15 WITA smpai 13.35 WITA di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Lelah memang, tapi tidak terasa karena masih sangat melekat euforia yang terjadi dini hari tadi.

●●●

"Peringkat tiga, setara perunggu untuk PKMP kelas 6, diraih oleh....."

"Allahummasholli 'ala sayyidina Muhammad, Ya Allah hamba mohon Ya Allah kabulkan doa hamba dan teman-teman hamba kali ini, Allahummasholli 'ala sayyidina Muhammad" mata yang telah memanas hampir pukul setengah dua belas malam ini memejam. Bukan untuk tidur, tapi berdoa sepenuh hati, menanti pengumuman juaranya.

"Universitas Udayana......"

"UNUD? How can? Sepertinya ini persaingan sulit." Sahut salah satu partner dalam timku.

Pengumuman itu sangat diluar ekpektasi. Sebagai peserta ajang ini, aku memperhatikan siapa-siapa yang kira-kira berpotensi menjadi juaranya. Aku mengira, 3 terbaik dari 20 tim di ruanganku adalah UNAIR, UGM, UB, atau IPB.

"Selanjutnya, peringkat kedua, setara perak, diraih oleh......"

Doa-doa semakin kencang terucap dalam hati yang semakin terguncang.

"Universitas..........
Brawijaya"

Seketika itu semua pasukan kontingen UB berdiri dan meneriakan jargon "Siapa kita? BRAWIJAYA! Siapa kita? BRAWIJAYA! Siapa kita? BRAWIJAYA! Brawijaya, satu kata, satu jiwa, Brawijaya JUARA!"

Senang? Pasti !
Tapi, tim siapa? Di ruang PKMP 6 ada 2 tim dari UB. Tim dari REVERT atau EBES juaranya? Kami tak sempat mendengar nama pemenangnya karena teriakan kontingen yang begitu bersemangat.

Galau? Sangat!
"Aku yakin itu tadi tim kita" kata ketua timku, meyakinkanku yang begitu khawatir.

"Gen, itu tadi tim siapa ya, Gen?" Tanyaku pada Genitri, teman satu kontingenku. Dia juga tengah merasakan hal yg sama. Ketika juara dari ruang PKMP 5 disebut, UB meraih perak, tapi kami tak tahu tim siapa karena ada 2 tim Brawijaya di ruang itu.

"Ah yasudahlah, ikhlas aja yah apapun yg terjadi"
"Semoga REVERT ya, Ir" Lila memberikan kekuatan padaku. Tim Lila pun telah meraih medali perak untuk kategori presentasi di ruangan PKMP 3.

Pembacaan pemenang masih terus berjalan.
Semakin memanas karena skor UB, ITS, dan UGM terus susul menyusul.
Jargon UB sudah berkali-kali diteriakkan. Lompatan, ucapan syukur, sholawat, basmalah, apa saja kami lakukan.
Mules, deg-degan, takut, senang bercampur jadi satu.
Tahun ini UB benar-benar menargetkan untuk merebut gelar juara umum dalam PIMNAS 28 di Universitas Halu Oleo, Kendari.

Sambil terus mendoakan yang lain, doa untuk tim sendiri juga terus terangkai.
"Kalau ternyata itu bukan REVERT, mungkin rasanya akan seperti ketika besok adalah hari akad nikah, tapi batal"

Ikhlas tapi masih berharap. Bisa disebut ikhlas? Entah. Tapi yang pasti aku yakin kalau berharap itu boleh, dengan berharap artinya kita yakin Allah bisa melakukan apapun

●●●●

"Seminggu untuk selamanya" salah satu potongan lirik Mars PIMNAS yang ditulis oleh Rektor UHO ini benar-benar mengena.

Kenangan 1 minggu yang mungkin tak kan terlupa.
Kini, aku rindu sekali dengan ibu. Ingin kuucap terima kasihku karena ibuku selalu mendoakanku.

Aku juga merindukan ayah.
"Semoga kamu sukses" adalah doa ayah saat beliau sakit di penghujung usianya. Aaamiin. Semoga ini adalah permulaan dari terkabulnya doamu, yah. Aku yakin doa orang sakit itu mustajabah.

Kini tinggal ibu yang selalu mendoakan, tapi aku lebih yakin lagi bahwa doa seorang ibu sangatlah mudah dikabulkan.
Ibu, ku inginkan pulang.
Maaf jika aku terlalu sibuk dengan urusanku.
Bukan berarti aku tak rindu. Aku hanya ingin menuntaskan amanah  yang telah diletakkan dipundakku.
Kuharap engkau sehat dan bahagia selalu, ibu :')

-Seseorang yang sedang merindu-

Jumat, 25 September 2015

Sacrifice ; Selfless way to love

"Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar
Laa ilaha illallahu Allahu akbar"
Kumandang takbir sepanjang malam hingga menjelang sholat ied sungguh membuat suasana lebaran hajiku tahun ini meriah. Apa istimewanya? Bukankah setiap hari Ied pasti ada takbiran? Ya betul, tapi tahun ini berbeda karena tahun ini aku kembali merayakannya di rumah setelah 2 tahun di tanah rantau merayakan qurban di desa dan di kampus bersama teman-teman :')

Sholat Ied di Masjid Al-Amin, mendengarkan setiap kata dari khutbah yang disampaikan dengan penuh khidmat.
Menceritakan kisah seorang hamba yang masuk surga karena ia selalu berqurban setiap tahunnya. Dalam keadaan miskin, beliau bertekad untuk selalu berqurban setiap hari raya Iedul Adha dengan menabung setiap harinya, menyisihkan uangnya, bahkan mengesampingkan kebutuhannya agar bisa membeli hewan qurban. Hal ini ia lakukan karena kecintaannya kepada Allah SWT.
Hingga ketika beliau meninggal, seseorang ingin bertemu dengannya dalam mimpi. Setelah sholat 2 rakaat, orang tersebut tidur dalam keadaan telah berwudlu dan meminta Allah untuk memperlihatkan dalam mimpinya kondisi tuan miskin setelah meninggal.
Orang itupun bermimpi dia sedang dalam hari pembangkitan dan dilihatnya tuan miskin menaiki kendaraan yang indah dan kuat melewati shirathal mustaqim menuju surga. Mereka bercakap sebentar dan tuan miskin berkata bahwa Allah telah mengampuninya, yang dinaikinya adalah qurban-qurbannya selama ia hidup, dan yang menjadi tunggangannya adalah qurban pertamanya di dunia.
Khutbah pertama kemudian ditutup dengan motivasi dari khotib bahwa orang miskin saja mampu berqurban, bagaimana dengan kita yang sebenarnya berkecukupan?

Khutbah tersebut cukup menyentil dan aku pun merasa tersindir.
Ya memang aku belum memiliki penghasilan tetap, tapi bukankah seharusnya aku juga bisa seperti tuan miskin tadi?
Terlebih tahun ini ternyata keluargaku berqurban, semua anggota rumah ikut patungan untuk membeli seekor sapi, kecuali aku. Aku juga tak tahu kalau tahun ini kami berqurban. H-1 hari raya aku baru mendapat cerita dari kakakku kalau semua (kecuali aku) patungan untuk membeli hewan qurban. Semuanya tak direncanakan, kakakku berkata awalnya juga mengira bahwa kami tidak berqurban tahun ini, tapi tiba-tiba ibu memutuskan untuk berqurban seraya berkata "Dengan qurban pasti rezeki makin lancar, diganti sama Allah lebih banyak"
Semangat ibuku sudah kembali setelah ayah pergi. Ibu semakin bersemangat mencari rezeki, semakin percaya bahwa Allah sudah memplot rezeki untuk kami.

Sholat Ied dilanjut dengan makan bersama keluarga besar ibu dan menziarahi makam ayah. Hari itu pertama kalinya ibu mengunjungi makam ayah, air matanya langsung mengalir. Inilah bentuk cinta seorang istri. Masa iddahnya baru habis sekitar 10 hari yang lalu. Hidup bersama selama lebih dari 30 tahun, satu sama lain pasti sudah banyak berkurban, lika-liku kehidupan rumah tangga dijalani hingga ajal yang memisahkan.

●●●

"Waaah senang ya"
Aku mendengar suara itu tepat dari sampingku, Mbak Sila, pegawai setia dari kakakku ikut membantu proses pemotongan hewan di rumah kami. Dia sedang mengobrol dengan Mbakku.
"Aku belum pernah mbak pegang daging sebanyak ini, kalau di kampung biasanya ada orang qurban ya nggak ikut2an kayak gini"
"Ya Allah senengnya yaaa, makan daging setahun sekali"

(Deg) lagi-lagi aku mendapat sebuah peringatan, hingga aku berpikir "apa benar makan daging hanya setahun sekali? Betapa dzolimnya aku jika aku tak bersyukur padahal setiap hari aku bisa makan daging kapanpun aku ingin"

Aku berpura-pura tidak mendengar obrolan mereka dan terus melanjutkan pekerjaanku memisahkan daging-daging dari tulang di kaki-kaki sapi di depanku. Sesekali aku mengasah pisau yang mulai tak tajam sembri terus mengasah hati yang cukup tak peka terhadap sekitar. Capek memang, tapi melihat semangat tetangga-tetanggaku yang turut membantu, rasa lelah itu tak sebegitu terasa. Terlebih ketika melihat orang-orang yang datang berterima kasih senang karena mendapat satu kresek kecil daging untuk dibawa pulang.

Aktivitas pagi ini di akhiri dengan makan siang bersama tetangga-tetangga rumahku setelah kami cukup lelah berjuang bersama daging-daging dan tulang-tulangnya.

Dokumentasi hari ini aku lampirkan.
Semangat baru semakin membara.
Aku sedang merintis sebuah usaha bersama 4 orang temanku. Semoga usaha kami lancar dan diberi keberkahan.
Semoga hasil usaha itu bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.
Aaamiin Ya Rabbal'alamin
Senang sekali jika kamu, yang membaca tulisan ini, juga bersedia untuk mendoakan kami :)

Selamat hari raya Idul Adha, semoga tahun berikutnya kita diberi kesempatan untuk berqurban dan menunjukkan cinta kita kepada Allah. Aamiin
Sacrifice is a selfless way to love :)

Warmest regards,

Bahira

Senin, 24 Agustus 2015

4 nilai, 2 pilar, banyak budaya, FKUB

-Religius, moralis, intelek, professional, kolegalitas, kepemimpinan-

Selamat pagi,
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Tak terasa sebentar lagi musim ospek.
Saya seorang mahasiswa tingkat tiga di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Sejak awal ospek, disini kami menyebutnya Probinmaba, saya makin jatuh hati dan merasa sangat beruntung Allah menakdirkan saya menuntut ilmu disini. Why? Kenapa? Kok bisa begitu? Bukankah ospek adalah hal yang menyebalkan? Ya memang, kebanyakan ospek di luaran sana sangat extreme dan dibumbuhi dengan perpeloncoan. Tapi disini sangat jauh berbeda, senioritas tetap ada namun dalam kemasan yang indah. Evaluasi, bentak membentak, dan hukuman diberikan dengan cara yang anggun. Kalau tidak percaya, kalian coba saja ospek di FKUB hehe.
Baiklah, langsung saja saya ceritakan. Salah satu hal yang paling saya sukai dari kehidupan di FKUB adalah budayanya. Sejak awal masuk kami dikenalkan dengan budaya SPMK (Standar Pakaian Mahasiswa Kesehatan). Awalnya memang terlihat seperti ribet "ih ribet, pake baju saja ga boleh gini gitu", tapi jika kamu coba mendalami esensinya, pasti kamu tak menemukan kerugian dibalik memakai SPMK, justru membuat kalian terlihat indah. Selain cara berpakaian yang diatur, kami juga ditanamkan dengan nilai-nilai kolegium (ini harus hafal di luar kepala). Ada 4 nilai kolegium yang tersusun secara hierarki namun semuanya harus dimiliki dalam taraf yang sama. Religius, moralis, intelek, profesional. Nilai religius menjadi hal yang paling utama, tapi tetap tak mengesampingkan nilai-nilai lainnya. Semuanya sama penting dan sebisa mungkin dimiliki setiap orang, saya rasa bukan hanya mahasiswa FKUB. Susah memang, tapi paling tidak kita berusaha. Dalam probinmaba kami juga dikenalkan dengan pilar pembinaan yaitu kolegalitas dan kepemimpinan. Ke enam sifat ini tak bisa begitu saja dimiliki seseorang, melainkan memang harus dibiasakan dan dibentuk. Dalam prosesnya mungkin berat, tapi jika sudah bisa menjalaninya, pasti akan baik. Tak hanya itu, kami juga dikenalkan dengan budaya 5S no S. 5 S, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun. Lalu no S ? NO SMOKING yah kita kan calon tenaga kesehatan yang kampanye anti rokok, mana boleh kita sendiri merokok. Sejak pulang ospek, saya jadi manggut-manggut kalo ketemu orang di jalan, kebiasaan di FKUB hehehehe.
Semua hal positif ditanamkan dalam rangkaian probinmaba yang berlangsung kurang lebih selama 1 tahun. Saya ingin berpesan pada adik-adik Maba, jangan pernah mengeluh. Kalian harusnya bersyukur karena kakak-kakak kalian telah berjuang mati-matian mempersiapkan ospek kalian. Pikiran, tenaga, perasaan, kantong dan semuanya diperas. Mereka memperjuangkan kebaikan kalian, mereka bela-belain ngabisin waktu libur mereka di kampus, demi kalian, jangan sia-siakan. Tugas-tugas yang diberikan pada kalian semuanya memiliki esensi. Saya hanya mahasiswa biasa, bukan bagian dari panitia ospek, tapi saya sangat miris jika ada orang tua / wali mahasiswa yang memprotes ospek di tempat kami. Saya bingung, apakah mereka tidak ingin anaknya tumbuh menjadi insan yang baik? Apakah mereka benar-benar terlalu sayang pada anak mereka hingga menginginkan segala kemudahan bagi anak mereka yang justru nantinya dapat menjerumuskan anak mereka kenjurang kemanjaan dan kelemahan? Kadang mereka berdalih tugas-tugas ospek mengganggu waktu belajar. Ayolah, mereka sedang dididik mengatur waktu, mereka sedang dibiasakan dengan kehidupan tenaga kesehatan yang nantinya akan jauh lebih keras dan menghabiskan banyak waktu. Toh disini mereka juga diperlakukan sangat manusiawi. Ayolah, orang hebat ga dibentuk dengan santai-santai, leyeh-leyeh, ketawa-ketiwi.
Sekian, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.
Terima kasih juga untuk kakak-kakak tingkatku yang baik hatinya ♡
Wassalam

Regards,
Bahira

*Sumber gambar : OFFICIAL LINE BEM FKUB

Sabtu, 08 Agustus 2015

Ini bukan hijrah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ukhtifillah,
Hmm baru pertama kali ini aku mencoba menggunakan kata itu.
Kurasa aku kurang pantas menyebutnya dengan lisanku. Hehe

Baiklah, hai sis :D

Aku ingin sedikit-banyak berbagi kisah, tentang hidayah dan taufiq.
Aku tak ingin menyebutnya sebagai "hijrah", karena kata-kata itu terlalu luar biasa dalam persepsiku.

Hidayah-
Ramadhan kali ini jauh berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, terutama beberapa tahun terakhir ini.
Tahun lalu, aku menghabiskan hampir 1 bulan ramadhan di kos, karena aku harus menempuh ujian dan semester pendek.
Tahun ini, hanya sekitar 3 hari di awal ramadhan yang aku lalui di kos.
Berkat rahmat Allah, aku mendapat nilai yang bagiku sendiri tak pantas ku dapat. Tapi memang rencana Allah lebih indah.
Dengan nilai itu, aku tak perlu menjalani semester pendek di tengah ramadhan. Aku bisa menghabiskan waktuku di rumah, membantu ibuku. Bedanya, tahun ini pertama kalinya aku melalui ramadhan tanpa ayah, ibu pun masih dalam masa iddah, sehingga belum bisa keluar untuk menjaga toko. Jadilah anak-anaknya berjuang bersama, mengompakkan diri membantu ibu.

Ramadhan kali ini aktivitasku cukup padat, aku tak bisa mengisi waktu-waktuku dengan ibadah sunnah, karena aku cukup lelah.
"Betapa sedihnya, ramadhan hanya datang 1 kali dalam setahun, belum tentu juga aku bertemu lagi tahun depan, tapi kenapa amalanku semakin menurun?"
Aku berpikir sendiri dan menemukan jawabannya.
"It's ok. You are doing right things kok, Ra. Kamu mendahulukan kewajiban membantu ibumu."
Pembelaan diri yang kulakukan hehe.
Selain membantu ibu, aku mengisi waktu pagiku untuk belajar agama di rumah kerabat yang sekaligus menjadi guruku.

"Aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan"
Ku rasa hampir semua perempuan muslim tahu akan hal ini. Tapi aku pun terkadang selalu punya pembelaan terhadap diriku untuk tak menutupnya dengan sempurna.

"Oleh karena itu, lengan sampai pergelangan tangan perempuan juga termasuk aurat, sebaiknya para perempuan memakai manset agar jika bergerak, lengan bajunya tidak tersingkap, dan aurat tetap dapat terjaga"
Ini pun, aku sudah beberapa kali mendengar. Tapi sepertinya hanya lewat telinga saja.
Hidayah ini tidak merasuk ke hati.

"Kaki perempuan juga aurat, maka dari itu hendaknya perempuan menutupnya, dengan kaos kaki misalnya"
Kalau yang ini, biasaya aku hanya memakai kaos kaki saat kuliah.

Ramadhanku terus saja berjalan dengan aktivitas-aktivitas yang telah ku uraikan. Aku, memang memakai kaos kaki ketika hendak berangkat ke toko atau kemanapun jika memakai motor. Why? Karena Gresik (tempat tinggalku) panas.
Itu memang alasan yang tak bernilai sama sekali. Tapi dulu aku melakukannya.

Hingga suatu ketika, tiba-tiba hidayah menelisik ke dalam hatiku.
Aku teringat akan sebuah tulisan yang pernah aku baca.
"Selangkah saja perempuan keluar rumah dengan membuka aurat, maka selangkah pula ayahnya terseret ke dalam neraka"
Ngeri bukan? Tapi dulu aku tak menggubrisnya.
Tapi entah kenapa semenjak ayah meninggal aku selalu menjadi perempuan yang mellow dan mudah galau, but I'm trying to be stronger.

Suatu ketika, selesai aku dan kakakku mengkaji agama, aku mencium tangan Budeku, yang merupakan ibu dari guruku sekaligus kakak dari Ibuku.
"Enak yo ayahmu, anak-e nurut-nurut kabeh ngene, wes tenang"
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maksud Bude adalah sekarang ayahku tenang di sana, karena anak-anaknya mau belajar ilmu agama dan penurut.
Entah kenapa kalimat itu begitu menusuk, tapi tak sakit.
Aku membayangkan bagaimana jika ayahku disiksa karena kesalahanku?

Aku pun teringat materi ceramah yang kusampaikan saat SMA (aku bukan penceramah, hanya sebatas tugas dari guru PAI).
Seorang wanita akan dipertaggungjawabkan oleh 4 laki-laki, ayahnya, suaminya, anaknya, saudara laki-lakinya.

Sepertinya Allah menancapkan hidaya ke qalbku.
Tapi apalah diri ini jika tak mendapat sokongan taufiqNya.

Taufiq-
Aku mulai membulatkan tekad. "Aku harus menutup kaki"
Karena hampir setiap hari aku pergi ke Pusat Grosir Surabaya untuk membeli keperluan toko, aku yang kebetulan mampir di toko kaos kaki pun tanpa pikir panjang meminta kakak perempuanku untuk membelikan setengah lusin kaos kaki warna coklat yang sedikit tebal. Harganya jelas lebih murah, karena aku membelinya grosir hehehe

Pagi-siang-malam, aku coba mengistiqomahkan diri untuk selalu memakai kaos kaki.
Beberapa kali ibuku bertanya tentang sikapku, aku belum berani berkata kebenarannya, aku hanya menjawab "biar ga gosong, bu. Pakai kaos kaki"
Tapi suatu ketika, ibuku melihatku memakainya di malam hari. Ibu pun langsung saja bertanya.
Entah, sepertinya Allah mengirimkan sebuah kekuatan padaku.
"Iya, Bu. Aurat" hanya dengan jawaban singkatku, ibuku diam dan sedikit tersenyum.

Perjalanan ini tak secepat itu. Aku belum berani memakai manset tangan, selanjutnya kita sebut saja handsock ya biar keren. Hihi

Aku hanya menimang-nimang handsock yang ada di toko. Perlu di ketahui, tokoku menjual keperluan sehari-hari, kaos kaki dan handsock pun ada, jadi jika aku perlu, tinggal ambil dan lapor ibu. Tapi kemudahan itu pun tak membuat aku sesegera mungkin memakainya. I don't know why. Mungkin seperti itulah hidayah tanpa taufiq.

Beberapa hari ini kakak laki-lakiku menjadi begitu cerewet dan bawel.
"Eh itu aurat" katanya ketika aku mengambilkan barang untuk pembeli sehingga lengan bawahku tersingkap.
Aku tak menggubrisnya, tapi memang nasihat itu perlu. Aku merasa mendapat dukungan terutama dari kakakku itu untuk menutup aurat sepenuhnya.

Aku memutar otakku lagi, mengaduk nuraniku. "Ini tinggal pakai, kamu ga perlu keluar uang lagi buat beli-beli di luar sana"
Butuh cukup waktu bagiku untuk menguatkan tekadku. Beberapa hari, 1 buah handsock mulai ku ambil dan ku pakai.

Aku mengutarakan niatanku itu di depan ibuku dan kakak perempuanku.
"Ga pake cadar sekalian?"
Aku diam dan menggelengkan kepala sambil tersenyum cengengesan ala anak bungsu.

Sudah hampir satu bulan aku sedikit berubah. Aku semakin percaya diri. Aku tidak tahu nanti bagaimana reaksi teman-temanku di kampus melihat sedikit perubahan ini. Tapi aku sangat berharap, apapun reaksinya, aku tetap akan istiqamah.

Untuk kawan yang juga sedang dilanda kebimbangan. Trust me. Jangan pernah ragu untuk berubah menjadi lebih baik :)
Aku mendapat ketenangan yang jaaaaauh lebih banyak dari sebelumnya.
Aku memang jauh dari sempurna. Tapi dengan perlahan melakukan perubahan menuju lebih baik, perubahan-perubahan lainnya akan mengikuti.

Menutup aurat tak perlu menunggu hatimu bersih sejernih air, tak perlu menunggu lisanmu selembut kapas, dan tak perlu menunggu tingkahmu seperti Puteri dan Ratu dalam Istana.
Yakin dan jadikanlah menutup aurat menjadi awal mula datangnya kebaikan dalam dirimu. Menambah rasa malumu. Semakin menjagamu.

Aku pun bukan perempuan yang sangat terjaga, diri ini masih penuh alpa. Tapi, tak ada yang salah dengan niatan dan usaha untuk menjadi lebih baik. Perlahan namun pasti menuju tujuan.
Tak usah berlari terlalu cepat. Karena aku takut, kita justru telalu cepat menjadi lelah, dan akhirnya berhenti.

Jika orang menghujat, yakinlah Allah akan menguatkan kita. :)

Dan bagi yang masih suka mengomentari orang. Tolong hargai. Hargai teman-temanmu yang ingin menjadi lebih baik. Bukankah menutup aurat itu menjalankan kewajiban agama? Ya. Kalian semua tahu itu. Lalu kenapa justru yang menutup aurat kalian pandang sebelah mata?

Sesungguhnya setiap apa yang seseorang kerjakan akan menjadi tanggung jawabnya sendiri. Dan apa yang kamu kerjakan akan menjadi tanggung jawabmu sendiri.

Wallahua'lam bisshowab.

Wassalamu'alaikum :)

Kamis, 30 Juli 2015

Kursi Ayah

"Raa, Ira, Ra..."
Aku langsung berlari menghampiri ayah.
Akhir-akhir ini ayah sering sekali menghabiskan waktunya di teras. Menduduki sebuah kursi kayu yang ayah beli dari toko meubel di daerah Pasuruan. Kursi itu baru-baru ini saja berada di luar. Sejak ayahku sering menghabiskan waktunya di teras rumah. 2 buah kursi kayu berwarna coklat. Satu untuk meletakkan badan ayah, dan satu untuk menyelonjorkan kaki ayah.

Ayah duduk di teras tepat di depan kamarku. Kami hanya dipisahkan oleh kaca kamar yang sekaligus menjadi dinding bagian depan kamarku. Cukup mudah bagi ayah jika sedang butuh sesuatu, ayah bisa memanggilku, atau dengan mengetuk kaca kamarku.

Tanpa aku berkata, ayah sudah bisa membaca maksud kedatanganku, ayah langsung mengutarakan keinginannya. "Tolong oleskan bedak di kaki ayah"

Berlari kecil, mengambil bedak bayi yang memang biasa digunakan untuk kaki ayah.
Kaki ayah terluka, seperti pecah, terbuka, terlihat daging merah muda yang bersih. Pedih, aku yakin itu sangat pedih.
Berjalan pun ayah sempoyongan, kakinya sakit.
Ibu telah membelikan ayah sepatu sandal, dari depan nampak seperti sepatu, tapi bagian belakangnya bukan sepatu. Sepatu ayah sudah beberapa lama tak digunakan karena ayah terlalu kesakitan jika dipaksa menggunakan sepatu, mungkin sesak, namun ayah tetap harus bekerja dengan rapih.

Ku oles bedak itu pelan-pelan, membalut seluruh luka di sela-sela jari kaki ayahku, kulihat ayah mengernyitkan muka, sedikit kesakitan. Tanpa banyak bicara aku melakukannya. Hanya miris melihatnya. Ayahku, kasian sekali.
"Sudah rata, yah".
"Iya, terima kasih, terima kasih banyak"
Kata-kata itu, selalu membuatku tak enak hati. Setiap kali aku melakukan sesuatu untuk membantu ayahku, ayah selalu berterima kasih padaku, bahkan untuk hal-hal yang terlalu sederhana, yang bagiku tak mengeluarkan tenaga, dan sangat tak perlu untuk diapresiasi.

Berbeda sekali denganku. Seorang anak dengan ego dan gengsi yang cukup tinggi. Terkadang aku meminta sesuatu pada orang tuaku atau kadang ayah dan ibuku memberiku sesuatu dengan cuma-cuma, tapi aku tak mengucap terima kasih kepada orang tuaku dengan lisan. Aku malu, padahal seucap terima kasih tidak akan menurunkan derajatku sama sekali. Justru sebenarnya derajatku memang sudah sangat jauh di bawah kedua orang tuaku.

Tapi anak kecil ini selalu belajar. Membunuh setiap gengsi dan berlatih mengucap terima kasih kepada orang tuanya.
"Seberapa banyak pun kamu berterima kasih, kamu tak akan bisa membalas jasa-jasanya. Catat, ingat!"

●●●

Hampir 3 bulan berlalu dari kepergian ayah. Ayah telah berlayar di alam baka.
Aku kini tak lagi mendengar panggilan dari depan kamarku.
Sesekali aku membuka gorden, mengintip ke luar, hanya ada kursi usang yang dulu menemani ayahku menghabiskan waktu di saat-saat terakhir hidupnya.
"Malang sekali kamu, kursi. Tak ada lagi yang mendudukimu kini."
Lalu ku tutup kembali kain penutup kaca itu.

Segala benda peninggalan ayahku kini menjadi perantara kami untuk mengenang ayah.

Aku dulu tak tau arti kenangan, tapi kini, aku benar-benar mengerti dan paham. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tapi kau akan tahu ketika kau  kehilangan sesuatu yang sangat engkau cinta.

●●●

"Ra, kamu ga pengen beli cat? Vernis."
"Vernis tuh buat apa, bu?"
"Buat kayu, buat ngecat kursi ayah yang di depan itu. Udah jelek banget kan. Biar bagus lagi"

Saat itu, aku yang baru saja mengantar ibu dari Puskesmas untuk check up dan mengambil obat di apotek langsung saja mengarahkan mobil ke toko bahan bangunan milik Paman (Adik Ibuku).

"Mbak, beli"
"Eh, Ira. Beli apa?" Pegawai Paman yang sudah kukenal menyapaku, tapi sayangnya aku lupa nama Mbak ini. Payah memang aku ini.

Kujelaskan maksudku, ku pilih warna sesuai keinginanku, dan aku bertanya cara mengaplikasikannya. Hanya bermodal 35 ribu, aku dapatkan 1 wadah vernis dan 1 buah kuas untuk melakukan pemolesan.

Setibanya aku di rumah, aku tak langsung mengerjakan project-ku.
Hari cukup panas di Gresik, saat itu sekitar pukul setengah 1 siang.
Aku melakukan aktivitas seperti makan, sholat, menonton TV, dan bermain gadget karena siang itu aku tak bisa tidur siang.

Bosan dengan semuanya, aku mengambil jilbabku, vernis, dan kuas. Aku keluar menuju teras untuk melihat kondisi kursi ayah.
"Sangat usang dan jelek" batinku.
Aku mulai menyiapkan kebutuhan lain seperti lap dan air untuk membersihkan debu yang telah banyak menempel sejak ayahku tak lagi menduduki kursi itu.

Sebelum aku memulai pekerjaanku, kakak laki-lakiku datang. Ia membantuku dipermulaan untuk mengecat kaki kursi. Tapi aku tak tahan, tanganku sangat gatal.
"Sini, biar aku saja yang ngecat. Udah, aku bisa kok"
Dengan sedikit pemaksaan, akhirnya aku berhasil membuat kakakku menyerahkan kuasnya.

Gerakan tanganku mulai menyusuri setiap bagian dari kursi kayu itu.
"Ah ternyata capek juga ya jadi tukang" sedikit kuusap keringatku.

Setiap detik aku mengingat ayah sembari menjangkau detail-detail kecil kursi dengan kuasku.
"Perempuan harus bisa melakukan pekerjaan laki-laki" pesan ayahku dulu ketika beliau sehat.
"Kamu harus bisa melakukan apa-apa tanpa ayah."
Ayahku mengajarkanku bagaimana cara membandrek mobil mogok, mengganti lampu, memperbaiki yang bocor, memaku, mengecat, menggergaji, dan sebagainya.
Ayah selalu berpesan padaku untuk jadi perempuan yang mandiri.
Dan aku beruntung pernah mendapat banyak ilmu dari ayahku.

"Raaa, cucian belum selesai disetrika, udah ngerjain yang lain aja" ku dengar ibuku berteriak memanggilku.
"Aku bosan, biar aku kerjakan ini dulu, Bu" yaaa, aku tengah bosan menyetrika bajuku yang telah kering dan ku angkat dari jemuran.

"Ibu ini, ganggu aku nostalgia aja" aku hanya membatin, tapi aku juga tertawa melihat kelakuanku sendiri.

Kaki hingga badan kursi telah aku cat.
"Cantik sekali"

Ada sedikit rasa puas di hati, berhasil melakukan hal-hal yang dulu diajarkan ayah padaku. Ayah selalu mengajarkan kesederhanaan pada anak-anaknya. "Ayahku yang multitalenta, semoga engkau senang melihat anak kecilmu ini tumbuh dewasa, mencoba mandiri tanpamu."

Kursi ini akan segera bisa digunakan di dalam rumah. "Kau tak kan kesepian lagi di luar" ucapku pada kursi ayah.

Sebelumnnya aku telah memotret kursi itu, dan setelah dicat, aku sempatkan memotretnya lagi. Aku ingin tahu perbedaan before-after-nya.