Kamis, 11 Februari 2016

Jarak

Kita duduk di tepi pantai
Diiringi petikan gitar tanpa dawai
Kadang ombak mendekatkan
Terkadang pula memisahkan

Tak ada daya
Tapi kita punya asa
Duduk bersama hingga petang
Untuk menikmati tebaran bintang
Mungkin bukan sekarang
Tapi di masa depan

Sekarang biarkan saja ombak berlaku apa
Ia menghempaskanmu ke sana
Dan meninggalkanku di sini
Ku yakin hatimu tak akan pergi

Biarlah jarak ini
Membuat kita menyadari
Bagaimana sesungguhnya isi hati
Tanpa nafsu, melainkan nurani

-Pasir di tepi pantai-

Selasa, 12 Januari 2016

Marah

Siapa yang tak sakit hati melihat ibunya disakiti?

"Aku yakin semua orang, seperti apapun ibunya, pasti geram melihat orang lain tak menghargai ibunya.
Marah? Pasti."

Siapa yang tak muak melihat ketidakakuran saudara-saudaranya?

"Aku yakin, kita semua akan tidak nyaman berada di antara 2 orang yang tak saling menyapa.
Marah kepada mereka berdua? Mungkin saja."

Siapa yang tak sedih melihat anak-anak kecil dan perempuan tak bersalah dihabisi begitu saja?

"Aku yakin semua akan iba.
Marah? Sudah seharusnya."

Marah, benci, dendam. Haruskah?
Seperti apa seharusnya kita mengambil sikap?

Aku ingin marah
Semua pelakunya pantas dihukum
Tapi tak seharusnya aku membenci mereka

"Kenapa tidak?"

Mereka tetaplah hamba-Nya, ciptaan-Nya, dan mereka dalam kendali-Nya

"Lalu?"

Harusnya aku marah dan membenci perilakunya
Bukan pelakunya

Aku tak tahu bagaimana cara mengalihkan kebencian ini, kemarahan ini, dan semua rasa ini
Aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan kebaikan untuk mengubah semua ini

Lemah
Ya, terlalu lemah untuk bersikap
Terlalu lemah untuk berkata
Tapi aku masih mampu berdoa

"Kenapa tidak kita pasrahkan saja semua pada Yang Mengabulkan Segala Doa?"

Ah, iya.
Benar sekali.
Tapi, itu pun tidak mudah.
Butuh keyakinan besar.

"Kenapa kau tidak yakin?"

Aku tahu
Semuanya bisa Allah lakukan !
Imanku memang naik turun.
Saat ini, kurasa aku hanya perlu berdoa, semoga imanku kembali.
Berdoa, dan berdoa.

"Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat
Sholat adalah berdoa
Sabarlah dalam berdoa dan menanti kuasa Allah bertindak
Mengalahkan semua yang mungkin tak bisa kau percaya"

"Sebenarnya kau tak perlu bertanya padaku, karena kau sudah tahu jawabannya"

Ah, iya.

Rabu, 06 Januari 2016

Kembali pulang

Setiap orang punya kisahnya
Setiap orang punya masa lalunya
Setiap bagian dari masa laluku
Akan kusimpan dalam kotak kenangan
Kujaga dengan baik
Aku tak tahu bagaimana nanti masa depan
Dengan kepergianmu
Dan aku tak ingin menerka
Apakah dirinya menjadi bagian kisah ini?
Kelak di masa mendatang
●●●

Nafasku mulai tersengal. Lama tak berjalan kaki, sedikit saja berjalan sudah membuatku kelelahan. Aku segera memasuki angkutan kota yang tak berpenumpang. 2 pikiranku bercakap.
"Hmmm bahaya ngga ya kalau naik? Sendirian gini"
"Udah jangan su'udzon, si bapak lagi nyari rejeki, biar dapur tetep ngebul"

Aku memang memutuskan naik angkutan untuk menuju ke terminal. Karena aku berpikir aku baru akan kembali ke kota itu lebih lama dari biasanya. Oleh karena itu aku harus berjalan dari tempat tinggal sementaraku di kota ini, Kota Malang, menuju tempat pemberhentian angkutan kota. Sebenarnya tidak ada kepastian apakah aku akan segera kembali, atau mendapat libur yang lebih lama. Tapi aku berharap yang kedua.

Perjalanan hari ini kulalui dengan sedikit menunggu dan banyak menanti. Aku sedang merindu saat aku berusaha menghabiskan novel dengan judul Rindu yang kubeli bulan November 2014, namun baru sempat kubaca hari ini, Januari 2016.

Cukup lama aku menunggu bus yang kucari. Baris tiap baris kalimat dalam buku yang sedikit tebal itu kususuri. Penuh pertanyaan dan nasihat.

"Sesungguhnya hidup kita ini adalah suatu perjalanan, perjalanan menuju mati" begitulah kira-kira nasihat yang paling jelas kusimpan dalam diri ini. Aku segera menutup buku itu, kurasa mataku tak kuat membaca tulisan dengan goyangan dari bus yang melaju kencang penuh kelokan, mendahului segala macam kendaraan di depannya. Kanan, kiri, kanan, kiri, kurang lebih seperti itulah lajur jalan yang dilewati bus untuk sampai segera di terminal Bunder

●●●

Gresik, daerah asalku, begitu panas. Bajuku basah, seperti disiram air. Bukan air segar, tapi peluh keringat yang menetes satu persatu tanpa henti. Aku memasuki pintu rumah yang tak terkunci.
"Assalamu'alaikum"
Hanya ada jawaban dari Yu Ya, asisten rumah tangga sekaligus orang yang merawatku sejak kecil. Aku pun segera mencari ibu. Pendengaran ibuku memang sedikit berkurang. Sepertinya itu komplikasi dari penyakit diabetes yang dideritanya dan ditambah efek samping obat yang dulu pernah dikonsumsi ibu.

Pukul 1 siang adalah saat aku memasuki rumah dan melihat jam dinding di ruang tamu. Aku terlalu gerah. Kubersihkan badanku sebelum selanjutnya aku menunaikan sholat.

Aku mulai memasuki kamar. Rasa itu muncul lagi, tanpa permisi. Tiba-tiba rasa senang yang kuperoleh setelah menginjakkan kaki di halaman rumah dan mencium tangan iby, pudar. Tergantikan rasa sedih dan takut. Kupandangi frame yang menempel di dinding kamarku. Kusadari, ayahku telah tiada. Aku selalu mengingat kepergian ayah jika pulang ke rumah ini. Aku teringat kembali, hidup ini adalah perjalanan menuju mati. Dan ayahku, telah lebih dulu berangkat, meninggalkan aku, ibu, dan 3 kakakku.
Aku berpikir, bagaimana jika setelah ini aku? Aku bahkan tak punya cukup bekal untuk perjalanan panjang itu.

Setelah meng-aamiin-kan doa-doaku. Perut ini sepertinya sudah memberi panggilan bahwa dia butuh asupan. Segera kupenuhi dan aku pun segera melanjutkan bacaanku. Setiap babnya, kuhayati. Kubaca perlahan.

Ada lima pertanyaan yang harus dijawab dalam novel itu, dan 3 diantaranya ada dalam hidupku.

●●●

Hari keduaku di rumah, aku masih saja memegang bacaan itu, karena semalam aku tertidur ketika membacanya.
Hari ini kukhatamkan semua paragraf di dalamnya. Hatiku begetar.  Bersitegang melawan perasaan-perasaan yang muncul. Tentang kemunafikan, jatuh cinta, dan kehilangan.

Pertanyaan tentang kehilangan telah terjawab.
Pun tentang jatuh cinta.
1. Setidaknya, mengikhlaskan adalah jalan keluarnya.
Kita tidak tahu mana yang baik bagi diri kita.
Kita sudah sering mendengar nasehat
"Boleh jadi apa yang kita inginkan, bukanlah apa yang kita butuhkan"
Nasehat itu semakin merasuk, meresap ke qalbu, lebih dari meresapnya kecap ke dalam daging ayam yang dimasak.
2. Lepaskan
"Jika itu memang untukmu, kelak pasti datang, dari mana saja, dengan cara apa saja"

Satu pertanyaan terakhir. Mungkinkah seorang perempuan 20 tahun ini adalah orang yang paling munafik di dunia?
Orang bisa dengan mudah menasehati, merangkai kata, dan membagi kebaikan, tapi melakukannya sendiri bukan perkara mudah.

Pertanyaan itu terus saja berputar-putar tanpa jawaban.
Kali ini aku menyerah. Memilih mencari jawabannya di lain kesempatan.
Tapi setidaknya perasaan dan pikiran yang dulu berkelana, merasakan dan memikirkan rasa yang tumbub tak wajar, kini telah pulang.
●●●

Terkadang, jawaban dari pertanyaan dalam hidupmu dapat kau temukan dari orang lain. Namun kadang, waktulah yang akan menjawabnya.
Kita lihat saja nanti :)

Minggu, 27 Desember 2015

Sepertinya Papa Cemburu

"Pa, jemput ya pa jam 3 sore. Makasih papa"
●●●
"Dimana anak ini"
"Pak, apa bapak melihat siswi kelas X bernama Nia?" Mungkin begitulah kira-kira saat papa bertanya pada satpam sekolah karena tak kunjung menemukanku setelah menunggu dari jam 3 sore hingga lebih dari jam 5 sore.
Ponselku kehabisan batere.
Aku juga lupa tak memberi tahu papa kalau tiba-tiba aku ada latian teater.
Aku yakin papa pasti begitu khawatir.
Tapi aku terlalu asyik dengan Kak Dimas hingga aku lupa jika papaku menjemputku.
Kak Dimas, kakak kelasku, dia begitu menawan, cerdas dan berparas menarik.
Akhir-akhir ini kami menjadi dekat dengan semakin seringnya latihan teater menjelang pentas.
Sore itu Kak Dimas menawarkan untuk mengantar aku pulang.
Gadis mana yang bisa menolak tawaran Kak Dimas? Kurasa hanya gadis abnormal saja yang mampu mengabaikannya.
Aku tiba di rumah dan membiarkan Kak Dimas pulang tanpa bertemu mama.
"Assalamu'alaikum, ma"
"Lho, kamu pulang sama siapa, nak? Papa mana?"
"Papa belum pulang, ma?"
"Tadi papa bilang jemput kamu. Mama kira kalian pergi makan dulu, jadi lama"
"Ma, tadi hpku lowbat. Coba mama telpon papa deh ma. Bilang aku udah pulang"
●●●
Semakin hari aku semakin sibuk dengan gadgetku.
Aku semakin intens berhubungan lewat chat online dengan Kak Dimas sampai-sampai aku yang biasanya selalu bertengkar dengan papa ketika kami memilih tempat makan, kali ini membiarkan papa membawa aku dan mama ke mana pun papa ingin.
Malam ini papa mengundang sepupu papa dan sepupuku untuk makan bersama kami di food carnival.
Aku masih saja sibuk dengan gadgetku hingga mama mulai pembicaraan mengenai Kak Dimas. Mama ingin menggodaku di depan sepupuku, Mbak Vina.
Aku malu-malu dan berusaha menampik hal-hal yang dikatakan mama.
Tapi tiba-tiba papa berkata "Iya, itu Vin. Minta jemput papanya, gak taunya pulang sama cowo. Giliran cowonya diminta masuk rumah ketemu papanya, dia ga berani"
Aku terdiam mendengar papa bercerita ke Mbak Vina.
Aku terus saja melihat papa bercerita dengan mukanya yang semakin merah padam, seperti marah.
"Kalo kayak gitu kan ga usah papa lagi ya. Biar aja tuh sama cowo barunya"
"Coba, Vin, kasih tau ke sepupumu ini, kasih nasehat harusnya dia seperti apa"
Papa terus saja bercerita dan menyampaikan semua uneg-uneg yang selama ini tak pernah papa ungkapkan.
Aku hanya diam, ingin sekali membela diri. Tapi untungnya Mbak Vina orang yang bijak menengahi papa dan aku.
Mbak Vina memahami betapa sayangnya papa pada anak perempuan semata wayangnya.
Mbak Vina pun menasehatiku dengan gayanya yang sama sekali tak menggangguku, tak terdengar seperti menggurui.
"Sepertinya papa kamu cemburu"
Satu kalimat Mbak Vina yang begitu membuatku sadar untuk kembali menjadi aku yang dulu, sebelum ada Kak Dimas dalam keseharianku.
Aku mengerti selama ini papa dan mama sangat menyayangiku. Tapi, papa begitu sulit mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Dan aku pun tidak peka terhadap perasaan papaku.
Aku sadar, selama ini aku cukup banyak berubah setelah mengenal Kak Dimas. Begitu banyak momen berharga bersama papa dan mama yang aku lewatkan hanya karena seorang Kak Dimas yang membuatku jatuh hati. Hingga aku lupa, bahwa aku punya orang-orang yang telah mencintaiku bahkan sebelum aku terlahir di dunia. Mereka yang mempersiapkan segalanya untuk masa depanku. Berkorban dengan sekuat tenaga dan segenap cinta untuk memberikan yang terbaik bagiku.
Aku menyadari bahwa Kak Dimas hanyalah remaja laki-laki yang baru saja masuk ke duniaku. Dan sesungguhnya, rasa sukanya padaku tak akan bisa mengalahkan cinta, kasih sayang, dan pengorbanan mama dan papaku.
●●●

Jumat, 20 November 2015

Bersamamu, Ibu

"Mad, pindah" kata Khalfi sambil mengusir Rahmad yang menduduki tempat dudukku.
Aku baru saja sampai dan masih ngos-ngosan setelah naik tangga sampai ke lantai 3.
Baru saja aku duduk, belakangku sudah memanggil dan aku pun menengok "Ra, dari Mbak Lusi"
Sebuah undangan resepsi pernikahan bersampul keras berwarna hijau. Mbak Lusi adalah kakak tingkatku di kedokteran, beliau angkatan 2011 dan kami saling mengenal karena pernah menjadi delegasi lomba ke Semarang. "deg" rasa hatiku saat menerimanya. Bukan galau karena ingin segera menyusul, tapi aku terharu. Kami saling mengenal tak terlalu lama, tapi Mbak Lusi masih ingat saja pada adek tingkatnya yang satu ini. Ku akui beliau salah satu figur kakak tingkat yang bisa jadi salah satu panutan. Tanpa pacaran dan menye-menye anak muda, tiba-tiba bulan Syawal kemarin Mbak Lusi mengganti statusnya menjadi "Menikah". Aku turut berbahagia. :) Semoga sakinah mawaddah wa rahmah, barakallahulakum. Aamiin
Hari ini pelajaran jam pertama tak berlangsung lama, beberapa temanku melanjutkannya dengan sarapan. Satria dan Hakiem membawa bekal, nasi goreng masakan Satria. Enak juga. Kata orang, ketika laki-laki bisa masak, dia romantis. Hahaha
Bukan masalah itu, tapi aku cukup malu jika harus kalah dengan seorang laki-laki seperti dia dalam urusan memasak. Asal bicara, aku langsung nyeletuk "Sat, kamu mau ga jadi istriku? kapan lagi ada cewe ngelamar kamu? hahahaha"
Beberapa hari ini Satria selalu membawa makanan yang ia bawa sendiri dan dibagi ke teman-temannya seperti aku. Bahkan dia janji hari Jum'at mau membawakan aku bekal makan siang masakan dia. Kami bersahabat, hidup dalam satu perkumpulan yang tidak sengaja diberi nama AEON. Aku merasa tertantang seperti apa nantinya hasil masakannya. Aku sendiri belum pandai memasak, belum sebulan aku tinggal di kos baruku yang dilengkapi dapur. Aku sudah mulai belajar memasak, tapi aku masih belum percaya diri. Aku saja melarang Rahmad mencicipi bekal masakanku, karena memang Rahmad adalah tipe orang yang suka mengomentari makanan. Aku malu, takut ternyata rasanya tidak enak dan akan mendapat olok-olok dari Rahmad. Hanya dua orang yang benar-benar aku biarkan memakan masakanku hari ini, Khalfi dan Fika, ya mereka adalah sahabat perempuanku yang aku percaya.
Siang ini perkuliahan berjalan cepat, pukul 13.00 aku sudah bisa pulang. Tak sengaja menemukan seorang penjual mangga. Aku tiba-tiba ingin membelinya.
"Berapa, pak?"
"22.000 mbak, satu kilonya 15.000"
(Hah? semahal itu kah? Jujur aku ga tau harga mangga di pasaran)
Aku biasa menikmati mangga gratis di rumah. Karena aku punya sebuah pohon mangga yang selalu berbuah tiap tahunnya. Sampai kos aku ingin sekali menelpon ibuku. Teringat semua kejadian hari ini, aku teringat ibu. Sambil ingin bertanya tentang mangga di rumah, apakah sudah berbuah.
Aku memencet tombol dial dan menunggu sampai ibu mengangkat. Namun ibu tak kunjung menjawab telponku. Aku sadari, saat itu adalah waktu tidur ibuku. Baiklah
Bu, aku kangen. Ingin rasanya pergi meninggalkan semua yang ada disini dan pulang, tidur sama ibu.
Bu, wujud perhatianku tak bisa kuucap dengan kata-kata. Tapi aku benar-benar ingin berbakti pada ibu. Apa yang bisa kulakukan, Bu, untuk membahagian ibu selain sekolah dan belajar dengan benar?
Aku akan mengerjakannya semampuku. Aku ingin membantu meringankan bebanmu, tapi aku pun tak punya cukup daya dan usaha. Ingin berbisnis pun, aku bingung. Aku cukup menghabiskan waktuku di kampus untuk kuliah seharian penuh dan dilanjut rapat hingga matahari terbenam. Aku hanya bisa berhemat saat ini. Menahan segala keinginan beli ini itu untuk menabung dan mungkin nantinya akan memulai sebuah usaha kecil-kecilan. Mudah-mudahan saja berhasil.
Melihat undangan dari Mbak Lusi dan mengingat Ibu secara bersamaan membuatku teringat sebuah obrolan kami saat itu.
"Bu kalau aku lanjut kuliah di luar negeri, ibu seneng?"
"Biayanya gimana?"
"Beasiswa, Bu, doakan saja. Kalau kayak gitu gimana, Bu?"
"yaaa, seneng... tapi nanti anak ibu hilang lagi"
 Itulah seorang ibu, terlebih di masa tuanya, pasti menginginkan bersama dengan buah hatinya. Aku sangat memahami itu. Oleh karenanya aku tak benar-benar kekeuh ingin pergi jauh. Tak seperti dulu, aku selalu ingin kuliah di tempat yang jauh dari rumah, agar aku tak pulang-pulang. Aku kuliah di Malang dan aku sangat bersyukur Malang-Gresik bisa ditempuh paling cepat dalam 2.5 jam dengan kendaraaan pribadi, dan sekitar 4 jam dengan kendaraan umum. Aku bisa pulang kapan saja aku ingin dan mampu.
Tapi sayangnya, aku cukup jarang pulang. 1-1.5 bulan sekali. Padahal targetku 2 minggu sekali aku bisa pulang.
Semuanya karena kegiatan di kampus.
"Jadi kamu nyalahin kegiatan kampus"
"Engga sih, cuma ya gitu lah" 
Hahaha bicara sendiri adalah salah satu hal yang cukup sering kulakukan jika sedang merasakan sebuah pergolakan.
3.5 tahun kuliah S1, lanjut 1.5-2 tahun pendidikan profesi, dan 1 tahun internship. Itu bukan waktu yang cepat. Selama itu aku harus berada di luar rumah. Meninggalkan keluargaku terutama ibuku.
Pernah suatu ketika kakakku berkata "kamu ga usah punya kamar ya, toh nanti setelah lulus kamu menikah dan keluar dari rumah"
Segitunya? Sejarang itukah aku pulang hingga kamarku mau diambil alih? Tapi memang benar, aku sudah jarang memakai kamarku, setiap pulang pun aku tidur di kamar ibu.
●●●
"Kamu nikah aja sama orang Lumajang"
"Orang Lumajang siapa cobaa?" Tanyaku sedikit nyolot pada kakak perempuanku
Kami sedang bercanda saat itu, masih dalam suasana lebaran Ied Fitri, hingga turunlah dari lantai 2 kakak laki-lakiku, sekaligus Waliku.
"Coba, coba tanya ke bapak wali" kata Mbak Icha
"Kalo aku nikah sama orang Gresik gimana?"
"Enak dong deket, ya kalo bisa yang deket"
"Kalo orang Jawa Barat? Kalimantan? Probolinggo?"
"Jauh amat"
"Kalo orang Malang?"
"Banyak banget sih pilihannya.. emang laku?" Kalimat terakhir itu membuatku diam menahan tawa dan bertanya pada ibuku
"Bu, kalo ternyata jodohku bukan orang daerah sini atau nanti habis nikah aku hidupnya pindah-pindah ngikut suami gimana, Bu?"
"Terserah kamu, paling ibu juga udah meninggal"
Sebuah kalimat yang singkat dan menakutkan. Setelah ibuku kehilangan ayah memang ibu jadi sering begini. Seperti kehilangan sebagian besar semangat hidup.
Tapi, Bu...
Haruskah yang Ibu bayangkan seperti itu? Apa Ibu tidak ingin melihat aku jadi orang dewasa yang sesungguhnya?
Bu jika waktu bisa dihentikan, aku akan minta waktu berhenti saat ibu bersamaku, saat kita bahagia, tanpa sedih sedikitpun.
Tapi, Bu. Hidup memang sudah diatur segalanya oleh Allah.
Kita tak tahu, bisa saja aku pergi lebih dulu sebelum ibu.
Tapi yang pasti, siapapun yang mendahului, aku ingin terus bersama ibu, kelak di surga, berkumpul dengan keluarga dan orang-orang yang kita cinta.
Saat ini, aku benar-benar ingin pulang.
-Bahira-