Sabtu, 14 Maret 2015

AEON

AEON,
Sebuah kata dari bahasa Inggris yang berarti "beribu-ribu tahun"
Sebuah nama yang tercetus secara insidental untuk grup yang terbentuk secara insidental pula.

Kami terbentuk secara tak di sengaja
Kami dipertemukan dalam kesulitan
Fika, Onny, Bhayu, Shelby, Exgha, Satria, dan aku (Ira). Kami terjebak dalam sulitnya survive dan beradaptasi di lingkungan baru, dunia mahasiswa kedokteran.
Mungkin teman-temanku tidak terlalu kesulitan, tapi aku, sebagai bocah yang sangat mudah mengantuk saat belajar, tak bisa tahan belajar sendirian di kamar.
Saat itulah dimulai perjalanan dari soulgroup ini.
Fika, yang selalu tertidur denganku saat belajar di kos, berinisiasi mengajakku belajar bersama teman-temannya, tak semua aku kenal, tapi saat itu lah kami mulai saling mengenal.

Hari berganti, pertemuan-pertemuan belajar selalu diiringi dengan pertambahan anggota-anggota baru.
Hakiem, Ikhsan, Rahmad, Edel, dan yang terakhir Khalfi.
Saat itu lah kami memutuskan untuk menetapkan anggota kelompok belajar ini, karena space rumah Exgha akan terasa sempit jika kita menambah orang lagi.

Meskipun telah menetapkan anggota tetap kelompok belajar, tapi kami tak pernah menutup diri dari teman-teman yang ingin belajar bersama.
Jejep, Linda, dan Adrian, mereka terkadang juga bergabung dengan kami, dan kami sangat senang dengan kehadiran mereka.

Kami memang, memiliki nama, tapi itu tak membuat kami menjadi sebuah geng exclusive yang tak mau berbaur dengan dunia luar.
Kami sangat welcome kepada siapa saja yang memang sedang berjuang bersama kami.

Waktu terus berlalu, kami tak hanya belajar, kami pun bermain bersama, tapi kami tak memprioritaskan agenda itu.
Kami hanya keluar ketika selesai ujian blok, UAS, dan ketika ada moment-moment special seperti ulang tahun salah satu dari kami.

Setiap orang mempunyai kesibukannya masing-masing, kami semua memiliki organisasi yang harus diurus
Fika-LAKESMA
Onny-baru bergabung dengan HMPD
Bhayu-baru bergabung dengan HMPD
Exgha-BEM FKUB
Shelby-AMSA, HMPD, ISMKI
Satria-HMPD
Ira-LSIM, BAPIN ISMKI
Hakiem-BEM FKUB
Ikhsan-BEM FKUB
Rahmad-Dagangan dan sedang akan menjadi anggota LSIM
Edel-LAKESMA
Khalfi-sedang dalam tahapan untuk menjadi anggota LSIM
jadi memang kelompok ini sangat jarang bisa kumpul lengkap, cukup sulit.
Terakhir kami kumpul sebelum aku menulis tulisan ini adalah Jum'at, 13 Maret 2015 (itupun tak lengkap). Kami mendapat rezeki traktiran hari kelahiran Fika yang ke 20 tahun, seharusnya Fika ulang tahun pada tanggal 24 Maret, tapi sebelum kami semakin sibuk, kami menyempatkan satu malam untuk berkumpul, tanpa ada buku, handout, dan soal :)

Fika, sangat ingin menjadi dokter yang terjun di masyarakat, menjadi klinisi seutuhnya.
Onny, gadis rajin nan cerdas, cukup diam namun mematikan. Narsis pula haha
Bhayu, pacarnya Onny, ga kalah rajinnya, jago anatomi.
Shelby, bercita-cita untuk menjadi dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.
Exgha, seorang calon direktur rumah sakit.
Aku, ingin menjadi akademisi dan juga peneliti.
Hakiem, dia tak terlalu mengekspos dirinya, diam, namun sekali bicara, sangat tajam wkwk
Ikhsan, aktif di berbagai organisasi dan kepanitiaan, cita-cita sebagai dr. Sp.OG
Rahmad, pedagang handal, semua barang bisa saja dia jual sebagai bentuk usaha.
Edel, laki-laki paling baik hati hahaha, suka garuk-garuk, dan ingin dirinya menjadi Sp. KK
Dan Khalfi, tak suka difoto, bisa tiba-tiba berubah pikiran secara drastis, tampak bakat sebagai akademisi dan ahli biomolekuler.

Itulah kami :)
Mungkin bagi pembaca, cerita ini kurang ada manfaatnya, namun saya hanya ingin bercerita, inilah kami, dipertemukan dalam sebuah kondisi yang membuat kita bertahan sampai kini, dan semoga sampai nanti :)

Sabtu, 28 Februari 2015

Mereka inginkanku tuk jadi

Kulihat log panggilan di telepon genggamku.
Didominasi 2 orang yang setiap hari memanggil. Yang satu selalu menanyakan:
1. Lagi dimana?
2. Sudah sholat?
3. Sudah makan?
Selalu menanyakan 3 hal ini dan selalu menasihati dan mengingatkan 2 hal terakhir. Selalu.
Dan yang 1 lagi selalu menanyakan:
1. Lagi dimana?
2. Gimana kabarnya? Gapapa?
3. Kapan pulang?
Pertanyaan wajib bagi mereka, selebihnya pertanyaan-pertanyaan yg selalu berubah.
Pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terlupa dalam setiap panggilan, hampir setiap hari, terkadang bahkan beberapa kali dalam sehari, menanyakan hal yang sama.

Lebih dari setahun hal ini terjadi, dan aku baru menyadari dan memahami sesungguhnya apa yang kedua orangtuaku inginkan.
Mereka selalu menginginkanku untuk menjadi anak yang taat kepada Allah, tak meninggalkan kewajiban meskipun sesibuk apa kegiatan perkuliahan yang sedang ku tempuh. Ya, meskipun sudah dewasa dan segala dosa yang aku perbuat bukan lagi menjadi tanggungan mereka, tapi mereka selalu menginginkan aku selamat, di dunia dan di akhirat.

Yang kedua, mereka ingin aku menjaga kesehatan, ini untuk kepentinganku sendiri utamanya. Nikmat sehat, memang nikmat yang sering terlupakan untuk disyukuri.

Dan yang terakhir, mereka ingin aku meluangkan waktuku, sesibuk apapun, untuk menemui mereka, meskipun hanya sekedar bersua. Mereka inginkan aku menengok mereka. Tak memaksa, tapi berharap. Satu lagi nikmat yang sering orang lupakan, yaitu waktu luang. Aku pun menyadari, bahwa pulang ke rumah adalah salah satu bentuk berbakti kepada orang tua. Hanya dengan pulang, meskipun aku tak membawa apa-apa, tak membawa harta ataupun prestasi, orang tuaku tetap bahagia, tersenyum lebar melihat kedatanganku. Meskipun di rumah aku juga tak banyak membawa manfaat bagi mereka, tapi kehadiranku di rumah cukup berarti bagi mereka. Anak mana yang tak ingin membahagiakan orang tuanya? Pulang adalah cara sederhana untuk menyenangkan orang tua, tapi cara sederhana ini tak semudah itu dilakukan. Aku pun menyadari dan selalu mengusahakannya, tapi orang tuaku tak meminta, mereka hanya bertanya penuh harap kapan anak bungsunya ini pulang dan menemui mereka.

Aku berpikir kembali, kenapa orang tuaku tak pernah bertanya "sudah belajar?". Orang tuaku, seumur hidupku, mulai aku TK hingga kini menempuh pendidikan dokter di kota orang, tak pernah menuntutku untuk memperoleh nilai yang bagus. Orang tuaku tak pernah mematok nilai, mengancam, atau bahkan menghukumku untuk urusan ini.

Aku terus berusaha memahami, kenapa? Di saat banyak cerita dari teman yang aku dengar menggambarkan bahwa orang tua mereka selalu menuntut mereka untuk menjadi juara kelas.
Orang tuaku, tak pernah sedikitpun.
Memang, jalan yang aku pilih sekarang adalah arahan dari orang tuaku. Menjadi mahasiswa kedokteran bukan sepenuhnya pilihanku, tapi aku tak masalah dengan hal itu, karena ketika itu ayah berpesan bahwa ayah ingin punya anak yang bermanfaat untuk orang banyak, menjadi dokter yang tidak money-oriented. Dan aku pun sepaham bahwa menjadi manusia haruslah bermanfaat untuk sesamanya.

Sedikit demi sedikit pemahamanku bertambah.
Orang tuaku, tak pernah menuntutku untuk menjadi orang yang hanya mengejar nilai, karena nilai bisa didapat dengan cara yang tak benar sekalipun. Orang tuaku, hanya ingin aku menjadi hamba yang taat kepada Tuhannya, menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya, dan menjadi sosok yang bermanfaat untuk sesamanya.

Dan kini, aku sungguh bahagia karena aku menulis ini di dalam kamarku, kamar yang aku tinggali semenjak SMA, setelah aku melihat rekahan senyum dari ayah dan ibu yang melihatku pulang.

Kamis, 15 Januari 2015

Kuncup yang terjaga

Biarkan fragmen-fragmen rasa ini berkumpul dalam kuncup bunga yang terjaga oleh kelopaknya.
Kumpulan kuncup-kuncup ini harus tetap terjaga.
Mungkin aku hanya perlu membiarkan mereka tumbuh dengan wajar.
Penuh sabar memberinya siraman air kesejukan.
Menunggu waktu terbaik.
Aku yakin mereka akan bersemi dan mekar pada waktunya.
Aku hanya perlu menjaganya, agar tak secuil pun fragmen ini terbang terbawa angin dan jatuh di tempat yang tidak seharusnya.

Jumat, 09 Januari 2015

Kenapa kau buka?

Assalamu'alaikum wr wb.

Sedikit aku ingin berkata jujur.
Untuk orang-orang yang pernah membaca blog ini,
Jika kau baca lagi isi blogku, maka beberapa konten telah tak ada, beberapa telah terganti bahkan terhapus.
Dan bagi yang belum pernah membaca, aku yakin ini adalah sebuah kenikmatan dari Tuhanku, Allah SWT.

Semua perubahan ini bermula ketika saya curhat kepada salah satu teman baik saya. Layaknya orang menceritakan masa lalu, aib pun sedikit demi sedikit terbuka.

Beberapa kalimat yang sangat mengena dan mengingatkanku kembali bahwa Allah telah memberikan sebuah nikmat yang luar biasa.

Jangan ceritakan aibmu kepada orang, karena Allah telah memberimu kenikmatan dengan menutup aib tersebut.

Teori itu memang sebelumnya telah ku ketahui, hanya saja, ketika tingkat keimanan seseoang mulai menurun, segala macam ilmu agama pun mulai melemah.

Aku sedih, seketika, seolah tertampar, hati ini pecah. Aku merasa, betapa kufur nikmatnya diriku sebagai seorang hamba.

Tuhanku telah menutupi kekuranganku, tapi mengapa aku sendiri yang justru membukanya?
Lisanku.. sungguh, aku sangat  tak ingin menjadikanmu sebagai perantaraku untuk tergelincir ke dalam neraka Allah :"

Aku benar-benar ingin, mungkin sebenarnya keinginan ini tak perlu diketahui orang lain, tapi apa salahnya jika seseorang yang tidak/dengan sengaja membaca tulisan ini dapat membantu mengingatkanku dalam mencapai setiap perubahan menuju kebaikan.

Sebagai seorang perempuan, aku rasa wajar jika aku ingin berlaku lebih santun dan anggun. Terlebih lagi nantinya aku harus berhadapan dengan pasien-pasienku yang memang harus ditangani dengan lembut.

Buku, artikel, dan berbagai kisah teladan Rasulullah saw ku baca. Kelembutan hati, kesantunan sikap, caranya menjaga lisan, dan semua kebaikan akhlaknya benar-benar tak mudah diterapkan manusia biasa.

Petunjuk Allah, lagi-lagi begitu jelas datang padaku.
Salah satu grup yang memuatku di LINE pun membahas tentang membuka aib ini.
Tak berselang lama, ustadz yang senantiasa membagi ilmunya kepada mahasiswa UB juga membahas mengenai hal ini.
3 kali berturut-turut, begitu jelasnya nikmat hidayah ini.

Allah telah memberi nikmat yang luar biasa dengan menutup aibmu, lantas kenapa kau buka?

Aku berharap, siapapun yang telah membaca ini, dengan ringan hati menegurku ketika aku salah ataupun melenceng lagi.

Semoga Allah selalu memberi kita hidayah dan taufiq agar kita dapat menjalankan setia yang memang sesuai dengan jalan Allah.
Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin :')

Sekian
Wassalamu'alaikum wr wb.

Rabu, 07 Januari 2015

Motivasi diri : Part 1

Kamu tidak harus punya IPK di atas 3,5 untuk jadi dokter yang baik. Yang kamu butuhkan adalah semangat untuk belajar sepanjang masa, keinginan kuat untuk menolong sesama, dan aksi ikhlas untuk mewujudkan itu semua :)
#semangatbelajarkolega #luruskanniat